KOMUNITAS HIJAU HITAM
mari berbagi ilmu pengetahuan, diskusi, kajian, menggagas dan menemukan ide-ide baru.
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai
24 Juni 2010
PEMIMPIN BARU
Semangat baru sangat diharapkan pada pemimpin yang baru saja terpilih untuk mampu mengemban amanat organisasi kedepan. menjadikan HMI Kom. Politeknik Neg. Ujung Pandang sebagai organisasi yang selalu eksist di barisan terdepan dalam membantu masyarakat.
23 Februari 2010
Mencintai Wanita Merupakan Akhlaq Para Nabi
Mencintai Wanita Merupakan Akhlaq Para Nabi
Imam Ja’far al Shadiq as berkata, “Sebagian dari akhlaq para Nabi adalah mencintai kaum wanita (hubb al-Nisâ’)” (Al-Wasail 20 : 21)
Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan mencintai kaum wanita sebagaimana hadits lainnya, bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Semakin banyak kecintaan seorang hamba terhadap kaum wanita semakin meningkat imannya dalam kebaikan.” 1]
Kecintaan kita kepada siapa pun, selain kepada Allah, bukanlah suatu dosa apalagi syirik, sepanjang bentuk cinta itu sejalan dan searah dengan cinta kita kepada Allah.
Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku, saya melihat buku karya Ibn al-Qayyim yang bejudul Taman Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Di dalam salah satu halaman pada buku tersebut ada sebuah kisah yang mengharukan tapi juga mengejutkan.
Kira-kira begini ceritanya, Fudlail bin Iyadl, salah seorang tokoh sufi ternama, sedang menunggui putrinya yang sedang sakit parah. Sang sufi melihat sedemikian berat penderitaan putrinya itu menjadi sedih hingga menitikkan air matanya. Putrinya begitu melihat ayahnya menangis segera menegur ayahnya, ”Mengapa ayah menangis?”
Fudhail menjawab, ”Tentu saja karena aku mencintaimu”
Putrinya sekali lagi menegur ayahnya,”Bagaimana ayah bisa mencintai sesuatu selain Allah?”
Fudhail terhenyak dan sadar, ia merasa bersalah dan berdosa karena ia telah memberikan cintanya kepada seeorang disamping cintanya kepada Tuhan.
Banyak kisah-kisah sufi yang menarik yang senada dengan cerita di atas, tetapi apakah bisa dibenarkan pola berpikir seperti itu?
Tentu saja penyataan-pernyataan seperti itu menjadi naif dan terkesan tidak cerdas, karena kita memahami bahwa selama bentuk cinta kita itu masih dalam ruang fitrah manusia dan searah dengan kecintaan kita kepada Tuhan maka hal yang demikian justru menjadi bagian dari ibadah dan kebajikan. (Hal ini sudah saya paparkan pada artikel2 sebelum ini)
Laki-laki dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan dari Yang Satu, Allah SwT, sehingga pada keduanya ada keselarasan untuk mencintai Tuhan secara sama.
AL NISA’ BUKAN IMRA’AH
Jika kita perhatikan dua teks hadits Imam Ja’far al-Shadiq as tersebut di atas, beliau as tidak menggunakan kata imra’ah, bentuk jamak dari mar’ah yang artinya : perempuan, tetapi beliau menggunakan kata al-Nisa’, sebuah kata yang tidak memiliki bentuk tunggal, yang artinya wanita.
Syekh al-Jerahi al-Halveti mengatakan bahwa isyarat ini menunjukkan bentuk kata al-Nisa’ bukanlah wanita tanpa nama yang para Nabi dan Rasulullah saww cintai. 2]
Dengan kata lain mereka (para Nabi) mencintai wanita-wanita tertentu. Yaitu wanita-wanita yang memang layak mereka cintai dengan kapasitas spiritual yang mumpuni. Contoh yang paling populer adalah kecintaan Nabi saww kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau. Sampai akhir hayat beliau saww beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah as sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saww kepada Fathimah as yang sangat besar.
Sejarah dan riwayat-riwayat hadits tentang kecintaan beliau saww kepada puterinya yang mulia ini menjadi topik khusus dari banyak pembahasan di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.
Rasulullah menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saww, Fathimah, puteri Nabi saww, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana sabda Rasulullah saww, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun” 3]
Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Tsa’labi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saww bersabda kepada puterinya Fathimah as, ”Cukuplah bagimu bahwa Allah menjadikanmu sebagai salah seorang penghulu wanita (di Surga) yaitu : Maryam binti ‘Imran, Asiyah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad.” 4]
Juga sabda beliau saww, ”Seutama-utama wanita di Surga ada empat orang : Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun.” 5]
Rasulullah saww bersabda, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilih 4 wanita (utama) yaitu : Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah.” 6]
Jadi, para Nabi, termasuk Nabi saww, mencintai kaum wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik.
TIGA HAL YANG DICINTAI NABI SAW
Hal seperti ini pernah disabdakan oleh Nabi saww, ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 7]
Segala sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Habb adalah benih. Makna harfiah habb adalah benih yang berasal dari rerumputan. Ada banyak jenis tumbuh-tumbuhan, dan maknanya berkaitan dengan kandungan gizi yang dimilikinya.
Makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan saling bergantung. Makhluk yang paling mulia, manusia, bergantung pada makhluk-makhluk yang lebih rendah karena manusia berasal dari debu.
Namun demikian, manusia mencintai yang lebih tinggi karena kelembutannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mencintai makna-makna yang lebih subtil. Nabi Muhammad saw. menyukai shalat, wangi-wangian, dan wanita. Ia mencintai yang paling lembut, yakni shalat, wewangian dan wanita.
Begitu kebutuhan-kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi, ia akan mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi dalam makna. Jika beruntung, maka ia akan meraih kepuasan fisik, yang kemudian membuat dirinya mempertanyakan makna. 8]
Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Wanita diciptakan untuk dicintai pria, karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya dimana dia berada dalam citra-Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai isterinya, karena ia mencintai isterinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola citra Ilahi. Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita, sehingga memungkinkan mereka bersatu dalam cinta dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar daripada penyatuan di dalam hubungan seksual. (di dalam sebuah pernikahan). 9]
Ketika pria mencintai wanita, dia mencari kesatuan, atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan yang dalam konfigurasi elemental yang lebih besar daripada perkawinan.
WANITA DICIPTAKAN DARI NAFS WAHIDAH
Allah SwT berfirman, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (QS 4 : 1)
Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan akal (al-‘aql), yang merupakan ciptaan(Nya) yang paling awal” 10]
Dengan pemahaman ini, saya meyakini bahwa baik Adam as maupun Hawa as diciptakan dari nafs wahidah atau Nur Muhammad. Dari pemahaman ini pula kita mendapatkan hikmah bahwa asal kejadian Adam yang mewakili pria dan Hawa yang mewakili wanita adalah satu dan sama.
Dari prinsip kesamaan atau keserupaan inilah kaum pria dan kaum wanita memiliki saling ketertarikkan satu sama lain. Pria bersesuaian dengan wanita melalui keserupaan. Maka pria menjadi hilang dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita.
Cinta dapat meresap ke seluruh bagian diri pria sedemikian rupa sehingga dia mencurahkan seluruh dirinya untuk wanita. Itulah sebabnya pria menjadi hilang dalam yang menyerupai dirinya dengan kehilangan yang sempurna, bertentangan dengan cintanya pada sesuatu yang tidak merupakan keserupaannya.
Cinta tidak dapat menyerap keseluruhan orang yang mencintai kecuali yang dicintainya adalah Tuhan atau salah satu yang serupa dengannya, seorang wanita atau seorang pria. Tidak ada cinta yang dapat menyerap seorang manusia secara menyeluruh, karena sebab esensi seorang manusia tidak bersesuaian dengan sesuatu pun kecuali seseorang yang menyerupai bentuknya sendiri. 11]
Rasulullah mencintai wanita-wanita melalui alasan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka (Jamaliyyah). Barangsiapa yang mencintai wanita-wanita dengan cara ini, maka ia mencintai dengan kecintaan yang bersifat Ilahiah.
Sebaliknya pria yang cintanya dibatasi pada gairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat Ilahi itu. Bagi orang ini, wanita dipandangnya sebatas bentuk-bentuk fisiknya belaka tanpa ruh. Ini adalah kehampaan karena orang seperti ini mendekati isterinya atau wanita-wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut tanpa menyadari Sesuatu Yang kesenangan-Nya benar-benar ada. Dengan demikian, pria itu benar-benar tidak mengenal dirinya.
Mereka benar dalam pengandaian bahwa aku sedang jatuh cinta,
Hanya mereka tidak mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta
Pria seperti ini benar-benar jatuh cinta pada kelezatannya bukan kepada Siapa Yang menyebabkan ia dapat menikmati kesenangan itu dengan wanita, dan merupakan Sang Penikmat. Jika ia jatuh cinta bukan pada kelezatannya tetapi pada Sumber Segala Kenikmatan niscaya ia akan menjadi sempurna. 12]
Nabi Saw adalah manusia yang paling sempurna dan sekaligus pria yang juga paling sempurna. Kecintaan Nabi Saw kepada kaum wanita menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terkait dengan kecintaan manusia lainnya, bukan semata-mata kecintaannya kepada Tuhan. Secara lebih khusus, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan pria terletak pada kaum wanita da, dengan demikian kesempurnaan wanita pun terletak pada kaum pria. 13]
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2] ayat 187)
Wanitalah yang menutupi aurat atau aib laki-laki dan laki-laki juga yang menutupi aurat atau aib wanita.
SIAPAKAH YANG LEBIH ENGKAU CINTAI?
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu hari Rasulullah menemui Ali dan Fathimah, dimana keduanya (Ali dan Fathimah) sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah mereka serentak terdiam. Melihat hal ini Nabi saww pun bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam?”
Maka Fathimah cepat-cepat berkata, ”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia (Ali) telah berkata begini, ”Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu”, maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, ”Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu!”.
Mendengar hal ini Rasulullah saww tersenyum lantas berkata, ”Wahai putriku, engkaulah buah hatiku yang paling aku cintai, sedangkan Ali lebih mulia bagiku daripadamu.” 14]
Mungkin kita bisa menafsirkan hadits di atas dengan metoda Ibn ‘Arabi, dimana ketika Rasulullah saww melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah, beliau melihat manifestasi Jamaliyyah (Keindahan Spiritual) Tuhan yang begitu dominan, sementara pada Imam Ali as, beliau melihat manifestasi Jalaliyyah (Keagungan Spiritual) Tuhan yang lebih mendominasi.
Pada hakikatnya, pada kaum wanita, manifestasi (tajaliyyat) Keindahan Tuhan lebih menonjol, sementara kaum pria lebih banyak menyerap manifestasi Keagungan Tuhan.
Orang yang mengetahui kedudukkan kaum wanita dan misteri mereka tidak akan menjauhi mereka. Sebaliknya, salah satu kesempurnaan kaum ‘urafa adalah kecintaan kepada mereka, sebab ini merupakan warisan Nabi saww dan cinta Ilahiah. 15]
Ibn Al-‘Arabi sendiri berkeyakinan bahwa di dalam diri wanitalah Tuhan lebih sempurna memanifestasikan diri-Nya. 16] Ini bisa dipahami karena sifat Rahman dan Rahim Tuhan lebih menonjol ketimbang sifat-sifat-Nya yang keras, sebagaimana hadis Qudsi yang sangat masyhur : “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 17]
Ibn ‘Arabi qs berkata :
“Kerinduan para ahli makrifat terhadap kaum wanita
adalah kerinduan dari keseluruhan terhadap bagian dirinya,
seperti kesunyian tempat tinggal yang mendambakan
penghuni yang memberi mereka kehidupan.
Lagi pula, Tuhan mengisi tempat dalam diri kaum pria
dari mana wanita diambil dengan kecenderungan terhadapnya.
Kerinduannya terhadap wanita itu adalah kerinduan
dan kecenderungan dari yang besar terhadap yang kecil”
(Futuhat al-Makkiyyah 2 : 190.9)
Imam Ja’far al Shadiq as berkata, “Sebagian dari akhlaq para Nabi adalah mencintai kaum wanita (hubb al-Nisâ’)” (Al-Wasail 20 : 21)
Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan mencintai kaum wanita sebagaimana hadits lainnya, bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Semakin banyak kecintaan seorang hamba terhadap kaum wanita semakin meningkat imannya dalam kebaikan.” 1]
Kecintaan kita kepada siapa pun, selain kepada Allah, bukanlah suatu dosa apalagi syirik, sepanjang bentuk cinta itu sejalan dan searah dengan cinta kita kepada Allah.
Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku, saya melihat buku karya Ibn al-Qayyim yang bejudul Taman Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Di dalam salah satu halaman pada buku tersebut ada sebuah kisah yang mengharukan tapi juga mengejutkan.
Kira-kira begini ceritanya, Fudlail bin Iyadl, salah seorang tokoh sufi ternama, sedang menunggui putrinya yang sedang sakit parah. Sang sufi melihat sedemikian berat penderitaan putrinya itu menjadi sedih hingga menitikkan air matanya. Putrinya begitu melihat ayahnya menangis segera menegur ayahnya, ”Mengapa ayah menangis?”
Fudhail menjawab, ”Tentu saja karena aku mencintaimu”
Putrinya sekali lagi menegur ayahnya,”Bagaimana ayah bisa mencintai sesuatu selain Allah?”
Fudhail terhenyak dan sadar, ia merasa bersalah dan berdosa karena ia telah memberikan cintanya kepada seeorang disamping cintanya kepada Tuhan.
Banyak kisah-kisah sufi yang menarik yang senada dengan cerita di atas, tetapi apakah bisa dibenarkan pola berpikir seperti itu?
Tentu saja penyataan-pernyataan seperti itu menjadi naif dan terkesan tidak cerdas, karena kita memahami bahwa selama bentuk cinta kita itu masih dalam ruang fitrah manusia dan searah dengan kecintaan kita kepada Tuhan maka hal yang demikian justru menjadi bagian dari ibadah dan kebajikan. (Hal ini sudah saya paparkan pada artikel2 sebelum ini)
Laki-laki dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan dari Yang Satu, Allah SwT, sehingga pada keduanya ada keselarasan untuk mencintai Tuhan secara sama.
AL NISA’ BUKAN IMRA’AH
Jika kita perhatikan dua teks hadits Imam Ja’far al-Shadiq as tersebut di atas, beliau as tidak menggunakan kata imra’ah, bentuk jamak dari mar’ah yang artinya : perempuan, tetapi beliau menggunakan kata al-Nisa’, sebuah kata yang tidak memiliki bentuk tunggal, yang artinya wanita.
Syekh al-Jerahi al-Halveti mengatakan bahwa isyarat ini menunjukkan bentuk kata al-Nisa’ bukanlah wanita tanpa nama yang para Nabi dan Rasulullah saww cintai. 2]
Dengan kata lain mereka (para Nabi) mencintai wanita-wanita tertentu. Yaitu wanita-wanita yang memang layak mereka cintai dengan kapasitas spiritual yang mumpuni. Contoh yang paling populer adalah kecintaan Nabi saww kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau. Sampai akhir hayat beliau saww beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah as sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saww kepada Fathimah as yang sangat besar.
Sejarah dan riwayat-riwayat hadits tentang kecintaan beliau saww kepada puterinya yang mulia ini menjadi topik khusus dari banyak pembahasan di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.
Rasulullah menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saww, Fathimah, puteri Nabi saww, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana sabda Rasulullah saww, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun” 3]
Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Tsa’labi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saww bersabda kepada puterinya Fathimah as, ”Cukuplah bagimu bahwa Allah menjadikanmu sebagai salah seorang penghulu wanita (di Surga) yaitu : Maryam binti ‘Imran, Asiyah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad.” 4]
Juga sabda beliau saww, ”Seutama-utama wanita di Surga ada empat orang : Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun.” 5]
Rasulullah saww bersabda, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilih 4 wanita (utama) yaitu : Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah.” 6]
Jadi, para Nabi, termasuk Nabi saww, mencintai kaum wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik.
TIGA HAL YANG DICINTAI NABI SAW
Hal seperti ini pernah disabdakan oleh Nabi saww, ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 7]
Segala sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Habb adalah benih. Makna harfiah habb adalah benih yang berasal dari rerumputan. Ada banyak jenis tumbuh-tumbuhan, dan maknanya berkaitan dengan kandungan gizi yang dimilikinya.
Makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan saling bergantung. Makhluk yang paling mulia, manusia, bergantung pada makhluk-makhluk yang lebih rendah karena manusia berasal dari debu.
Namun demikian, manusia mencintai yang lebih tinggi karena kelembutannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mencintai makna-makna yang lebih subtil. Nabi Muhammad saw. menyukai shalat, wangi-wangian, dan wanita. Ia mencintai yang paling lembut, yakni shalat, wewangian dan wanita.
Begitu kebutuhan-kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi, ia akan mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi dalam makna. Jika beruntung, maka ia akan meraih kepuasan fisik, yang kemudian membuat dirinya mempertanyakan makna. 8]
Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Wanita diciptakan untuk dicintai pria, karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya dimana dia berada dalam citra-Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai isterinya, karena ia mencintai isterinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola citra Ilahi. Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita, sehingga memungkinkan mereka bersatu dalam cinta dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar daripada penyatuan di dalam hubungan seksual. (di dalam sebuah pernikahan). 9]
Ketika pria mencintai wanita, dia mencari kesatuan, atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan yang dalam konfigurasi elemental yang lebih besar daripada perkawinan.
WANITA DICIPTAKAN DARI NAFS WAHIDAH
Allah SwT berfirman, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (QS 4 : 1)
Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan akal (al-‘aql), yang merupakan ciptaan(Nya) yang paling awal” 10]
Dengan pemahaman ini, saya meyakini bahwa baik Adam as maupun Hawa as diciptakan dari nafs wahidah atau Nur Muhammad. Dari pemahaman ini pula kita mendapatkan hikmah bahwa asal kejadian Adam yang mewakili pria dan Hawa yang mewakili wanita adalah satu dan sama.
Dari prinsip kesamaan atau keserupaan inilah kaum pria dan kaum wanita memiliki saling ketertarikkan satu sama lain. Pria bersesuaian dengan wanita melalui keserupaan. Maka pria menjadi hilang dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita.
Cinta dapat meresap ke seluruh bagian diri pria sedemikian rupa sehingga dia mencurahkan seluruh dirinya untuk wanita. Itulah sebabnya pria menjadi hilang dalam yang menyerupai dirinya dengan kehilangan yang sempurna, bertentangan dengan cintanya pada sesuatu yang tidak merupakan keserupaannya.
Cinta tidak dapat menyerap keseluruhan orang yang mencintai kecuali yang dicintainya adalah Tuhan atau salah satu yang serupa dengannya, seorang wanita atau seorang pria. Tidak ada cinta yang dapat menyerap seorang manusia secara menyeluruh, karena sebab esensi seorang manusia tidak bersesuaian dengan sesuatu pun kecuali seseorang yang menyerupai bentuknya sendiri. 11]
Rasulullah mencintai wanita-wanita melalui alasan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka (Jamaliyyah). Barangsiapa yang mencintai wanita-wanita dengan cara ini, maka ia mencintai dengan kecintaan yang bersifat Ilahiah.
Sebaliknya pria yang cintanya dibatasi pada gairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat Ilahi itu. Bagi orang ini, wanita dipandangnya sebatas bentuk-bentuk fisiknya belaka tanpa ruh. Ini adalah kehampaan karena orang seperti ini mendekati isterinya atau wanita-wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut tanpa menyadari Sesuatu Yang kesenangan-Nya benar-benar ada. Dengan demikian, pria itu benar-benar tidak mengenal dirinya.
Mereka benar dalam pengandaian bahwa aku sedang jatuh cinta,
Hanya mereka tidak mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta
Pria seperti ini benar-benar jatuh cinta pada kelezatannya bukan kepada Siapa Yang menyebabkan ia dapat menikmati kesenangan itu dengan wanita, dan merupakan Sang Penikmat. Jika ia jatuh cinta bukan pada kelezatannya tetapi pada Sumber Segala Kenikmatan niscaya ia akan menjadi sempurna. 12]
Nabi Saw adalah manusia yang paling sempurna dan sekaligus pria yang juga paling sempurna. Kecintaan Nabi Saw kepada kaum wanita menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terkait dengan kecintaan manusia lainnya, bukan semata-mata kecintaannya kepada Tuhan. Secara lebih khusus, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan pria terletak pada kaum wanita da, dengan demikian kesempurnaan wanita pun terletak pada kaum pria. 13]
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2] ayat 187)
Wanitalah yang menutupi aurat atau aib laki-laki dan laki-laki juga yang menutupi aurat atau aib wanita.
SIAPAKAH YANG LEBIH ENGKAU CINTAI?
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu hari Rasulullah menemui Ali dan Fathimah, dimana keduanya (Ali dan Fathimah) sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah mereka serentak terdiam. Melihat hal ini Nabi saww pun bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam?”
Maka Fathimah cepat-cepat berkata, ”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia (Ali) telah berkata begini, ”Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu”, maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, ”Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu!”.
Mendengar hal ini Rasulullah saww tersenyum lantas berkata, ”Wahai putriku, engkaulah buah hatiku yang paling aku cintai, sedangkan Ali lebih mulia bagiku daripadamu.” 14]
Mungkin kita bisa menafsirkan hadits di atas dengan metoda Ibn ‘Arabi, dimana ketika Rasulullah saww melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah, beliau melihat manifestasi Jamaliyyah (Keindahan Spiritual) Tuhan yang begitu dominan, sementara pada Imam Ali as, beliau melihat manifestasi Jalaliyyah (Keagungan Spiritual) Tuhan yang lebih mendominasi.
Pada hakikatnya, pada kaum wanita, manifestasi (tajaliyyat) Keindahan Tuhan lebih menonjol, sementara kaum pria lebih banyak menyerap manifestasi Keagungan Tuhan.
Orang yang mengetahui kedudukkan kaum wanita dan misteri mereka tidak akan menjauhi mereka. Sebaliknya, salah satu kesempurnaan kaum ‘urafa adalah kecintaan kepada mereka, sebab ini merupakan warisan Nabi saww dan cinta Ilahiah. 15]
Ibn Al-‘Arabi sendiri berkeyakinan bahwa di dalam diri wanitalah Tuhan lebih sempurna memanifestasikan diri-Nya. 16] Ini bisa dipahami karena sifat Rahman dan Rahim Tuhan lebih menonjol ketimbang sifat-sifat-Nya yang keras, sebagaimana hadis Qudsi yang sangat masyhur : “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 17]
Ibn ‘Arabi qs berkata :
“Kerinduan para ahli makrifat terhadap kaum wanita
adalah kerinduan dari keseluruhan terhadap bagian dirinya,
seperti kesunyian tempat tinggal yang mendambakan
penghuni yang memberi mereka kehidupan.
Lagi pula, Tuhan mengisi tempat dalam diri kaum pria
dari mana wanita diambil dengan kecenderungan terhadapnya.
Kerinduannya terhadap wanita itu adalah kerinduan
dan kecenderungan dari yang besar terhadap yang kecil”
(Futuhat al-Makkiyyah 2 : 190.9)
Letak Kecantikan Wanita
Letak Kecantikan Wanita
Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang. Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu. Kecantikan wanita ada pada sikap lembutnya, yang terpancar dari keihlasan hati dalam merawat dan menjaga keluarga.
“Wanita yang cantik adalah wanita yang bisa menjaga harga dirinya.”
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang. Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu. Kecantikan wanita ada pada sikap lembutnya, yang terpancar dari keihlasan hati dalam merawat dan menjaga keluarga.
“Wanita yang cantik adalah wanita yang bisa menjaga harga dirinya.”
Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah
Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah:
Model Panutan Gerakan Perempuan dalam Islam
Ketika perempuan di dunia Islam menggeliat menyuarakan haknya, banyak orang merasa tersentak, terutama mereka yang selama ini hidup nyaman dengan sistem patriaki. Yang muncul kemudian adalah resistensi terhadap segala gerakan yang ditengarai menyuarakan hak-hak perempuan. Dari yang menganggap gerakan itu sebagai adopsi barat, sampai yang menganggap tidak ada dasarnya dalam Islam.
Memang, jika kita merunut sejarah Islam sejak zaman klasik sampai sekarang, gerakan perempuan selalu berhadapan dengan arus besar yang tidak menghendaki perubahan akibat gerakan itu. Namun, tidak berarti bahwa gerakan perempuan dalam Islam tidak ada dan tidak diakui agama. Teks-teks suci keagamaan menunjukkan bahwa gerakan perempuan, terutama di awal Islam, memiliki bobot dan pengaruh terhadap rumusan ajaran-ajaran formal keagamaan pada masa Nabi Muhammad Saw.
Tulisan ini akan mencoba sedikit menguak gerakan perempuan yang terjadi pada masa Rasulullah Saw, untuk membuktikan gerakan perempuan dalam Islam bukanlah sesuatu yang baru, apalagi dianggap tidak berdasar. Tulisan ini menampilkan Rasulullah karena dua hal. Pertama, Rasulullah diakui sebagai panutan seluruh umat Islam, baik dalam ucapan, perbuatan, penetapan, sifat maupun sistem nilai yang dibentuknya. Selain itu, generasi sahabat yang hidup semasa Rasulullah diakui secara aklamasi sebagai generasi Islam terbaik. Kedua, dinamika gerakan perempuan yang terjadi pada masa sahabat tidak terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan ketika peradaban Islam sedang berada di puncak peradaban dunia, di masa Abbasiyah. Barulah pada akhir abad kesembilan belas, ketika Islam menyadari ketertinggalannya, gerakan perempuan Islam akhirnya muncul. Menyusul kesadaran perlunya kebangkitan Islam pasca kolonialisme.
Al-Qur'an dan Perjuangan Perempuan
Sebagaimana disinggung sebelumnya, gerakan perempuan memiliki pengaruh langsung terhadap turunnya ajaran-ajaran agama, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Al-Qur'an menyatakan dengan sangat jelas pengaruh tersebut. Dalam Al-qur'an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suara dari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab yang secara eksplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum perempuan dalam Al-qur'an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat "Orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar." Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa'i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad.
Al-Qur'an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa'labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya untuk melakukan hubungan seksual. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak disetubuhi, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya.
Pembelaan Al-Qur'an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubaay bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu'adzah yang hamil. Dan saat melahirkan , anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu'adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan seperti Mu'adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka adalah Maha Pengampun dan Pengasih.
Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu'adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul kerena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun.
Kurang lengkap rasanya mengurai perjuangan (baca:gerakan) perempuan Islam masa awal tanpa menyinggung dua peristiwa besar yang menunjukkan keteguhan dan kemandirian kaum perempuan dalam menentukan sikap hidupnya. Peristiwa itu adalah Bai'at an-Nisa' (Bai'at keIslaman kaum perempuan) dan Hijrah ke Madinah. Dalam Bai'at an-Nisa, Allah memerintahkan Nabi untuk membai'at dan memintakan ampunan kepada perempuan yang secara sadar datang bersama-sama untuk berbai'at. Untuk menguji kesungguhan kaum perempuan ini, Rasulullah-sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadist sahih berdasarkan kesaksian Umaimah binti Ruqaiqah, salah seorang perempuan Anshar peserta bai'at-mengajukan banyak pertanyaan kepada sekelompok yang hendak berbai'at ini. Peristiwa bai'at ini terekam dengan gamblang dalam surat al-Mumtahanah ayat 12.
Peristiwa lebih dramatis terjadi juga pada beberapa perempuan yang secara sadar meninggalkan segala kemewahan hidup dan keluarganya yang masih memusuhi Islam untuk ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Menghadapi perempuan teguh seperti ini, lagi-lagi Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk menguji keteguhan imannya. Jika benar-benar bulat tekadnya, maka mereka harus dilindungi dari ancaman dan serangan yang mungkin dilakukan keluarganya. Ummu Habibah, putri Abu Sufyan pembesar Kuffar Makkah yang kelak menjadi istri Nabi, merupakan satu di antara para perempuan yang teguh ini. Perjuangan para perempuan yang hijrah meninggalkan keluarganya ini diabadikan dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10-12.
Ilustrasi di atas menunjukkan, sejak awal perempuan Islam sudah memiliki kesadaran kolektif untuk menyatakan sikap hidupnya, walapun harus berhadapan dengan risiko besar. Meskipun demikian, kesadaran kolektif itu belum terjalin dalam sebuah gerakan perempuan yang sistematis seperti saat ini.
Al-Hadis dan Perjuangan Perempuan Meneropong apa yang terjadi dalam gerakan perempuan Islam dalam sejarah, sangat mustahil jika tidak membuka hadis Nabi. Hadis Nabi merupakan bukti otentik atas dinamika yang terjadi di masa itu, termasuk dinamika gerakan perempuan Islam.
Kalau kita melihat hadis Nabi yang berbicara mengenai perempuan, kita temukan bahwa sebagian besar hadis muncul karena ada pertanyaan atau kasus yang dialami perempuan. Seperti masalah relasi suami istri-baik relasi seksual maupun relasi keseharian, dan bagaimana peran publik dan sosial perempuan, merupakan beberapa bukti betapa inisiatif dan aspirasi perempuan menjadi sebab utama munculnya hadis-hadis tersebut.
Sepintas lalu, proses munculnya ajaran tentang perempuan yang demikian tampaknya meneguhkan anggapan bahwa agama kurang menaruh perhatian pada perempuan. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lain, hal justru itu merupakan fakta betapa agama tidak semena-mena dalam memberikan peraturan menyangkut perempuan. Nabi sebagai pembawa risalah sangat menyadari bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang tidak serta merta memahami seluk beluk perempuan. Karenanya, beliau perlu mendengar suara perempuan sebelum memberikan satu keputusan agama. Sikap ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kecenderungan sebagian ahli agama yang merasa paling tahu dan karenanya merasa paling berhak membuat aturan tentang perempuan. Padahal, kalau Rasulullah berkenan, dengan mengatas namakan wahyu Tuhan, semua peraturan bisa dibuat. Namun Rasulullah tidak melakukan hal itu. Rasulullah tidak memonopoli suara perempuan dengan menjadikan agama sebagai senjata. Sebaliknya, agama ditempatkan Rasulullah sebagai ruang dialog yang bisa mewadahi aspirasi pemeluknya, tidak terkecuali kaum perempuan.
Harus diakui, langkah yang ditempuh Nabi ini merupakan apresiasi besar terhadap keberadaan kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa, mengingat tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebiasaan mewarisi dan menjadikan perempuan bak barang tinggalan, menguasai sistem sosial yang berlaku saat itu. Sikap Rasulullah yang akomodatif ini membuat sahabiyat (sahabat perempuan Nabi) merasa bebas menyuarakan aspirasinya. Pada gilirannya, situasi ini menyuburkan gerakan perempuan Islam di masa Nabi Saw.
Sejarah mencatat bahwa majlis ta'lim untuk perempuan pada masa Nabi telah ada. Dan seperti disinggung di atas, alasan terbentuknya majlis ta'lim ini adalah kebutuhan sahabiyat akan ilmu agama sebagaimana sahabat laki-laki. Mereka meminta Nabi untuk menyediakan waktu khusus untuk perempuan karena merasa perhatian Nabi kepada laki-laki lebih besar daripada kepada mereka. Nabi langsung menyetujui keinginan itu.
Persamaan keinginan untuk belajar ini pada gilirannya membuat sahabiyat memiliki semacam komunitas bersama. Tercatatlah nama Asma' binti Yazid, seorang sahabiyat cerdas yang diangkat menjadi juru bicara para sahabiyat. Suatu kali di hadapan para sahabat laki-laki, Rasulullah memuji kemampuan Asma' ini. Lagi-lagi tema yang diangkat dan mendatangkan pujian nabi ini mengenai persamaan hak perempuan dan laki-laki.
Pertanyaan Asma' di atas adalah persoalan kolektif yang dikemukakan secara kolektif pula. Sahabiyat biasa mengajukan pertanyaan dan mengadukan persoalan mereka di masjid atau dalam suatu forum terbuka. Ini merupakan salah satu cara sahabiyat menyampaikan aspirasi perempuan. Cara lain adalah langsung bertanya kepada Nabi secara pribadi, sesekali juga melalui istri Nabi. Pertanyaan langsung secara pribadi pada Nabi umumnya dilakukan sahabiyat jika persoalannya bersifat spesifik, seperti istihadhah atau menyangkut relasi suami istri.
Menyampaikan aspirasi, baik yang bersifat memperjuangkan hak perempuan atau mencari tahu ajaran agama menjadi tradisi yang tumbuh subur di kalangan sahabiyat, terutama di kalangan Anshar. Tidak heran jika Ummul Mukminin Aisyiah r.a memuji sikap perempuan Anshar yang tidak dihalangi rasa malu dalam tafaqquh fiddin. Imam Bukhari mengabadikan pujian Aisyiah menjadi judul bab dalam salah satu bahasan tentang ilmu dalam kitab Sahih Bukhari-nya. Sementara Imam Muslim menyitir pernyataan itu dalam suatu hadis mauquf dalam Sahih Muslim-nya.
Catatan Penutup
Apa yang dipaparkan ini sesungguhnya belum merekam seluruh peristiwa yang bisa kita sebut sebagai gerakan perempuan Islam di masa awal. Namun demikian, dari berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang terekam dalam al-qur'an dan Al-hadis, kita dapat melihat kecenderungan umum yang sangat menarik. Baik dari sudut perempuan selaku komunitas yang memperjuangkan haknya, maupun dari sudut Nabi selaku pemegang otoritas keagamaan dan kemasyarakatan. Dari sudut perempuan, tampak jelas bahwa hak-hak perempuan itu ada, baik secara kolektif maupun pribadi. Tanpa itu, sangat mungkin aspirasi perempuan tak terwadahi karena pemegang otoritas kebetulan seorang laki-laki. Dari sudut Nabi, beliau telah memberikan contoh yang sangat ideal mengenai bagaimana seharusnya seorang laki-laki pemegang otoritas mewadahi aspirasi perempuan. Dalam kedudukannya sebagai Nabi yang punya hak penuh mengatur ummatnya, Muhammad Saw tidak semena-mena membuat aturan mengenai perempuan dengan mengatasnamakan agama tanpa memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi kaum perempuan. Konfigurasi dari dua sisi yang saling mengisi itupun kemudian membuka kemungkinan perempuan untuk menyuarakan aspirasi kaumnya. Jika sahabat yang merupakan contoh terbaik generasi Islam saja tidak ragu-ragu memperjuangkan hak dan aspirasi mereka, layakkah kita yang hidup di era modern ini tidak berani menyuarakan hak dan aspirasi kita dalam sebuah wadah besar yang bernama gerakan perempuan?
Model Panutan Gerakan Perempuan dalam Islam
Ketika perempuan di dunia Islam menggeliat menyuarakan haknya, banyak orang merasa tersentak, terutama mereka yang selama ini hidup nyaman dengan sistem patriaki. Yang muncul kemudian adalah resistensi terhadap segala gerakan yang ditengarai menyuarakan hak-hak perempuan. Dari yang menganggap gerakan itu sebagai adopsi barat, sampai yang menganggap tidak ada dasarnya dalam Islam.
Memang, jika kita merunut sejarah Islam sejak zaman klasik sampai sekarang, gerakan perempuan selalu berhadapan dengan arus besar yang tidak menghendaki perubahan akibat gerakan itu. Namun, tidak berarti bahwa gerakan perempuan dalam Islam tidak ada dan tidak diakui agama. Teks-teks suci keagamaan menunjukkan bahwa gerakan perempuan, terutama di awal Islam, memiliki bobot dan pengaruh terhadap rumusan ajaran-ajaran formal keagamaan pada masa Nabi Muhammad Saw.
Tulisan ini akan mencoba sedikit menguak gerakan perempuan yang terjadi pada masa Rasulullah Saw, untuk membuktikan gerakan perempuan dalam Islam bukanlah sesuatu yang baru, apalagi dianggap tidak berdasar. Tulisan ini menampilkan Rasulullah karena dua hal. Pertama, Rasulullah diakui sebagai panutan seluruh umat Islam, baik dalam ucapan, perbuatan, penetapan, sifat maupun sistem nilai yang dibentuknya. Selain itu, generasi sahabat yang hidup semasa Rasulullah diakui secara aklamasi sebagai generasi Islam terbaik. Kedua, dinamika gerakan perempuan yang terjadi pada masa sahabat tidak terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan ketika peradaban Islam sedang berada di puncak peradaban dunia, di masa Abbasiyah. Barulah pada akhir abad kesembilan belas, ketika Islam menyadari ketertinggalannya, gerakan perempuan Islam akhirnya muncul. Menyusul kesadaran perlunya kebangkitan Islam pasca kolonialisme.
Al-Qur'an dan Perjuangan Perempuan
Sebagaimana disinggung sebelumnya, gerakan perempuan memiliki pengaruh langsung terhadap turunnya ajaran-ajaran agama, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Al-Qur'an menyatakan dengan sangat jelas pengaruh tersebut. Dalam Al-qur'an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suara dari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab yang secara eksplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum perempuan dalam Al-qur'an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat "Orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar." Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa'i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad.
Al-Qur'an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa'labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya untuk melakukan hubungan seksual. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak disetubuhi, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya.
Pembelaan Al-Qur'an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubaay bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu'adzah yang hamil. Dan saat melahirkan , anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu'adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan seperti Mu'adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka adalah Maha Pengampun dan Pengasih.
Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu'adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul kerena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun.
Kurang lengkap rasanya mengurai perjuangan (baca:gerakan) perempuan Islam masa awal tanpa menyinggung dua peristiwa besar yang menunjukkan keteguhan dan kemandirian kaum perempuan dalam menentukan sikap hidupnya. Peristiwa itu adalah Bai'at an-Nisa' (Bai'at keIslaman kaum perempuan) dan Hijrah ke Madinah. Dalam Bai'at an-Nisa, Allah memerintahkan Nabi untuk membai'at dan memintakan ampunan kepada perempuan yang secara sadar datang bersama-sama untuk berbai'at. Untuk menguji kesungguhan kaum perempuan ini, Rasulullah-sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadist sahih berdasarkan kesaksian Umaimah binti Ruqaiqah, salah seorang perempuan Anshar peserta bai'at-mengajukan banyak pertanyaan kepada sekelompok yang hendak berbai'at ini. Peristiwa bai'at ini terekam dengan gamblang dalam surat al-Mumtahanah ayat 12.
Peristiwa lebih dramatis terjadi juga pada beberapa perempuan yang secara sadar meninggalkan segala kemewahan hidup dan keluarganya yang masih memusuhi Islam untuk ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Menghadapi perempuan teguh seperti ini, lagi-lagi Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk menguji keteguhan imannya. Jika benar-benar bulat tekadnya, maka mereka harus dilindungi dari ancaman dan serangan yang mungkin dilakukan keluarganya. Ummu Habibah, putri Abu Sufyan pembesar Kuffar Makkah yang kelak menjadi istri Nabi, merupakan satu di antara para perempuan yang teguh ini. Perjuangan para perempuan yang hijrah meninggalkan keluarganya ini diabadikan dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10-12.
Ilustrasi di atas menunjukkan, sejak awal perempuan Islam sudah memiliki kesadaran kolektif untuk menyatakan sikap hidupnya, walapun harus berhadapan dengan risiko besar. Meskipun demikian, kesadaran kolektif itu belum terjalin dalam sebuah gerakan perempuan yang sistematis seperti saat ini.
Al-Hadis dan Perjuangan Perempuan Meneropong apa yang terjadi dalam gerakan perempuan Islam dalam sejarah, sangat mustahil jika tidak membuka hadis Nabi. Hadis Nabi merupakan bukti otentik atas dinamika yang terjadi di masa itu, termasuk dinamika gerakan perempuan Islam.
Kalau kita melihat hadis Nabi yang berbicara mengenai perempuan, kita temukan bahwa sebagian besar hadis muncul karena ada pertanyaan atau kasus yang dialami perempuan. Seperti masalah relasi suami istri-baik relasi seksual maupun relasi keseharian, dan bagaimana peran publik dan sosial perempuan, merupakan beberapa bukti betapa inisiatif dan aspirasi perempuan menjadi sebab utama munculnya hadis-hadis tersebut.
Sepintas lalu, proses munculnya ajaran tentang perempuan yang demikian tampaknya meneguhkan anggapan bahwa agama kurang menaruh perhatian pada perempuan. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lain, hal justru itu merupakan fakta betapa agama tidak semena-mena dalam memberikan peraturan menyangkut perempuan. Nabi sebagai pembawa risalah sangat menyadari bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang tidak serta merta memahami seluk beluk perempuan. Karenanya, beliau perlu mendengar suara perempuan sebelum memberikan satu keputusan agama. Sikap ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kecenderungan sebagian ahli agama yang merasa paling tahu dan karenanya merasa paling berhak membuat aturan tentang perempuan. Padahal, kalau Rasulullah berkenan, dengan mengatas namakan wahyu Tuhan, semua peraturan bisa dibuat. Namun Rasulullah tidak melakukan hal itu. Rasulullah tidak memonopoli suara perempuan dengan menjadikan agama sebagai senjata. Sebaliknya, agama ditempatkan Rasulullah sebagai ruang dialog yang bisa mewadahi aspirasi pemeluknya, tidak terkecuali kaum perempuan.
Harus diakui, langkah yang ditempuh Nabi ini merupakan apresiasi besar terhadap keberadaan kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa, mengingat tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebiasaan mewarisi dan menjadikan perempuan bak barang tinggalan, menguasai sistem sosial yang berlaku saat itu. Sikap Rasulullah yang akomodatif ini membuat sahabiyat (sahabat perempuan Nabi) merasa bebas menyuarakan aspirasinya. Pada gilirannya, situasi ini menyuburkan gerakan perempuan Islam di masa Nabi Saw.
Sejarah mencatat bahwa majlis ta'lim untuk perempuan pada masa Nabi telah ada. Dan seperti disinggung di atas, alasan terbentuknya majlis ta'lim ini adalah kebutuhan sahabiyat akan ilmu agama sebagaimana sahabat laki-laki. Mereka meminta Nabi untuk menyediakan waktu khusus untuk perempuan karena merasa perhatian Nabi kepada laki-laki lebih besar daripada kepada mereka. Nabi langsung menyetujui keinginan itu.
Persamaan keinginan untuk belajar ini pada gilirannya membuat sahabiyat memiliki semacam komunitas bersama. Tercatatlah nama Asma' binti Yazid, seorang sahabiyat cerdas yang diangkat menjadi juru bicara para sahabiyat. Suatu kali di hadapan para sahabat laki-laki, Rasulullah memuji kemampuan Asma' ini. Lagi-lagi tema yang diangkat dan mendatangkan pujian nabi ini mengenai persamaan hak perempuan dan laki-laki.
Pertanyaan Asma' di atas adalah persoalan kolektif yang dikemukakan secara kolektif pula. Sahabiyat biasa mengajukan pertanyaan dan mengadukan persoalan mereka di masjid atau dalam suatu forum terbuka. Ini merupakan salah satu cara sahabiyat menyampaikan aspirasi perempuan. Cara lain adalah langsung bertanya kepada Nabi secara pribadi, sesekali juga melalui istri Nabi. Pertanyaan langsung secara pribadi pada Nabi umumnya dilakukan sahabiyat jika persoalannya bersifat spesifik, seperti istihadhah atau menyangkut relasi suami istri.
Menyampaikan aspirasi, baik yang bersifat memperjuangkan hak perempuan atau mencari tahu ajaran agama menjadi tradisi yang tumbuh subur di kalangan sahabiyat, terutama di kalangan Anshar. Tidak heran jika Ummul Mukminin Aisyiah r.a memuji sikap perempuan Anshar yang tidak dihalangi rasa malu dalam tafaqquh fiddin. Imam Bukhari mengabadikan pujian Aisyiah menjadi judul bab dalam salah satu bahasan tentang ilmu dalam kitab Sahih Bukhari-nya. Sementara Imam Muslim menyitir pernyataan itu dalam suatu hadis mauquf dalam Sahih Muslim-nya.
Catatan Penutup
Apa yang dipaparkan ini sesungguhnya belum merekam seluruh peristiwa yang bisa kita sebut sebagai gerakan perempuan Islam di masa awal. Namun demikian, dari berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang terekam dalam al-qur'an dan Al-hadis, kita dapat melihat kecenderungan umum yang sangat menarik. Baik dari sudut perempuan selaku komunitas yang memperjuangkan haknya, maupun dari sudut Nabi selaku pemegang otoritas keagamaan dan kemasyarakatan. Dari sudut perempuan, tampak jelas bahwa hak-hak perempuan itu ada, baik secara kolektif maupun pribadi. Tanpa itu, sangat mungkin aspirasi perempuan tak terwadahi karena pemegang otoritas kebetulan seorang laki-laki. Dari sudut Nabi, beliau telah memberikan contoh yang sangat ideal mengenai bagaimana seharusnya seorang laki-laki pemegang otoritas mewadahi aspirasi perempuan. Dalam kedudukannya sebagai Nabi yang punya hak penuh mengatur ummatnya, Muhammad Saw tidak semena-mena membuat aturan mengenai perempuan dengan mengatasnamakan agama tanpa memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi kaum perempuan. Konfigurasi dari dua sisi yang saling mengisi itupun kemudian membuka kemungkinan perempuan untuk menyuarakan aspirasi kaumnya. Jika sahabat yang merupakan contoh terbaik generasi Islam saja tidak ragu-ragu memperjuangkan hak dan aspirasi mereka, layakkah kita yang hidup di era modern ini tidak berani menyuarakan hak dan aspirasi kita dalam sebuah wadah besar yang bernama gerakan perempuan?
Perempuan Penghuni Surga
Dalam satu riwayat Imam Shadiq as berkata: Allah swt telah mewahyukan kepada Nabi Daud as untuk pergi menyampaikan kabar gembira kepada Khalawah binti Aus bahwa ia merupakan calon penghuni surga. Dan beritahukan kepadanya bahwa ia di surga berada di sampingmu.
Kemudian Nabi Daud as pergi menuju rumah perempuan tersebut. Sewaktu tiba di rumahnya lantas ia mengetuk pintu rumah. Mendengar ketukan pintu lalu Khalawah bangkit dan membuka pintu. Ketika ia melihat Nabi Daud as, lantas ia berkata: “Apakah telah turun wahyu tentangku sehingga tuan mendatangiku?”. Nabi Daud as menjawab:“Ya, benar”. Perempuan bertanya kembali: “Apakah itu?”.Nabi Daud as menjawab: “Wahyu tersebut berkaitan dengan keutamaanmu”.
Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu padaku!”.
Perempuan berkata: “Saya selalu bersabar atas segala penyakit, kerugian, dan kesulitan yang telah menimpaku. Bahkan saya tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan segala ujian dan cobaan dariku, melainkan Dia sendiri menghendaki-Nya. Saya juga tidak mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya atas segala kesabaranku ini. Akan tetapi saya selalu mensyukuri-Nya”. Nabi Daud as bersabda: “Karena perbuatanmu inilah engkau telah mencapat derajat tinggi di sisi-Nya”.
Kemudian Nabi Daud as pergi menuju rumah perempuan tersebut. Sewaktu tiba di rumahnya lantas ia mengetuk pintu rumah. Mendengar ketukan pintu lalu Khalawah bangkit dan membuka pintu. Ketika ia melihat Nabi Daud as, lantas ia berkata: “Apakah telah turun wahyu tentangku sehingga tuan mendatangiku?”. Nabi Daud as menjawab:“Ya, benar”. Perempuan bertanya kembali: “Apakah itu?”.Nabi Daud as menjawab: “Wahyu tersebut berkaitan dengan keutamaanmu”.
Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu padaku!”.
Perempuan berkata: “Saya selalu bersabar atas segala penyakit, kerugian, dan kesulitan yang telah menimpaku. Bahkan saya tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan segala ujian dan cobaan dariku, melainkan Dia sendiri menghendaki-Nya. Saya juga tidak mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya atas segala kesabaranku ini. Akan tetapi saya selalu mensyukuri-Nya”. Nabi Daud as bersabda: “Karena perbuatanmu inilah engkau telah mencapat derajat tinggi di sisi-Nya”.
06 Januari 2010
LANJUTAN BELAJAR FILSAFAT
- Masalah terpokok dalam Filsafat
Seperti yang telah dikemukakan bahwa filsafat adalah studi tentang hubungan antara pikiran manusia dan keadaan sekelilingnya, antara dunia subjektif dan dunia objektif. Dalam hubungan antara pikiran atau ide manusia dan keadaan atau kenyataan di sekelilingnya itu, sudah tentu banyak terdapat persoalan. Tetapi di antaranya, yang paling pokok dan mendasar adalah antara pikiran dan keadaan atau antara ide dan materi, yang manakah yang lebih dahulu. Ini menjadi masalah yang terpokok dan paling mendasar, karena setiap sistim filsafat atau pandangan dunia, mau tak mau harus menjawab hal ini. Dan jawabannya adalah menjadi pangkal tolak pandangan filsafatnya.
Dalam dunia filsafat terdapat banyak macam aliran atau sistim filsafat, tetapi jawaban terhadap masalah pokok ini terbagi dalam dua kubu sistim filsafat yang besar. bagi mereka yang berpendapat bahwa pikiran atau ide ada terlebih dahulu atau primer dan keadaan atau materi adalah sekunder, karena dilahirkan atau ditentukan oleh pikiran, maka mereka tergolong dalam kubu IDEALISME. Misalnya mereka yang mengatakan: sebelum gedung pencakar langit itu ada, terlebih dahulu ia sudah ada di dalam otak sang insinyur yang merancang pembangunannya. Kemudian idenya itu dituangkan dalam gambar cetak biru dan akhirnya dibangunlah gedung itu berdasarkan gambar tadi. Jadi gedung itu adalah perwujudan kongkrit dari ide yang sudah ada lebih dahulu. Demikian pula sebelum Indonesia merdeka, ide atau gagasan tentang indonesia itu sudah ada lebih dahulu dalam pikiran pejuang nasional kita, di dalam pikiran rakyat indonesia.
Sebaliknya mereka yang berpendapat, bahwa keadaan atau materi itu primer dan pikiran atau idea itu sekunder, tergolong dalam kubu MATERIALISME. Terlihat misalnya, bahwa keadaan penghidupan manusia yang membutuhkan tempat berteduh telah melahirkan ide di alam pikirannya untuk membangun rumah. Oleh karena di dalam kota-kota besar jumlah penduduk membesar, maka kebutuhan tanah untuk perumahan akan makin besar pula, sehingga harga tanah akan membumbung tinggi, dan keadaan ini yang menimbulkan ide untuk membangun rumah bertingkat. Demikian juga idea tentang Indonesia merdeka dilahirkan oleh keadaan hidup bangsa dan rakyat Indonesia yang menderita karena penindasan dan penghisapan kolonialisme. Jadi idea atau pikiran itu tak lain adalah pemurnian atau refleksi keadaan atau kenyataan yang material.
Dua kubu besar filsafat itu, Idealisme dan materialisme, sejak dari dulu kala sampai sekarang, saling berlawanan dalam segala pandangannya, justru karena jawaban mereka terhadap masalah terpokok tersebut berlawanan. Dengan perkataan lain titik tolak pandangan mereka bertentangan satu sama lain, masing-masing berkeras mempertahankannya. Oleh karena itu, sejarah filsafat pada dasarnya adalah sejarah perjuangan antara materialisme dan Idealisme. Pengalaman sejarah selama ini menunjukkan, pada umumnya, bahwa materialisme selalu mewakili pandangan dunia kelas yang maju, sedangkan idealisme mewakili pandangan dunia kelas yang reaksioner. Ketika borjuasi Eropa melawan kekuasaan feodal, mereka mengangkat materialisme sebagai senjata perlawanan mereka. Misalnya borjuasi Perancis mengibarkan tinggi-tinggi materialisme sewaktu menjelang revolusi besar perancis (1789). Tetapi setelah revolusi demokratis borjuis menang dan kaum borjuis naik tahtah, mereka melemparkan materialisme dan mengibarkan kembali idealisme yang tadinya menjadi senjata ideologis kelas feodal. Kini materialisme umumnya menjadi senjata ideologi dari kelas dan rakyat revolusioner dalam perjuangannya untuk demokrasi dan kebebasannya, dan idealisme menjadi senjata ideologi dari kelas dan penguasa yang reaksioner dan kontra revolusi, anti demokrasi dan anti rakyat.
Di antara dua kubu besar filsafat yang bertentangan keras itu, terdapat suatu aliran filsafat yang kelihatannya sebagai aliran ketiga atau non-blok, tidak berpihak pada monoisme-idealis ataupun monisme-materialis. Mereka berpendapat bahwa antara ide dan materi, antara pikiran dan keadan kongkrit, tak ada yang primer atau sekunder, tak ada yang satu menentukan keadaan yang lain, masing masing saling mempengaruhi. Pendek kata kedua kubu itu "ko-eksistensi secara damai ". Aliran ini dalam ilmu filsafat disebut DUALISME. Tokohnya yang terkenal adalah Immanuel kant, bapak filsafat kelasik jerman abad 19.
Kantianisme ini nampak jelas hendak menempuh jalan kompromi, "jalan tengah", tak mau membenarkan atau berpihak pada manapun, berdiri di tengah-tengah kedua belah bihak yaitu antar materialisme dan idealisme. Padahal ia adalah bagian dari salah satu bentuk idealisme, karena pandangan yang menjadi titik tolaknya adalah karangan idea subjektifnya, tidak sesuai dengan kenyataan objektif. Pandangan yang idealis ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, malahan juga masih terdapat dalam kelompok kaum progresif ataupun yang revolusioner. Misalnya tidak sedikit mereka dapat menerima materialisme, tapi di pihak lain masih belum bisa melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan idealisme (mistik, tahyul dsb) dan banyak di antaranya akhirnya melepaskan materialisme dan jatuh sepenuhnya dalam jurang-jurang idealisme itu.
Sudah tentu dalam kubu idealisme terdapat berbagai aliran atau cabangnya, tapi pada pokoknya dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan pangkal atau titik tolak pandangannya. Golongan pertama, IDEALISME OBJEKTIF, yaitu mereka yang berpangkal tolak dari ide yang secara objektif ada di luar manusia, misalnya, ide Tuhan menurut filsafat agama dan ide absolut menurut filsafat Hegel. Golongan ini umumnya berpendapat, misalnya adanya kehidupan dan alam semesta karena perwujudan dari ide Tuhan sang pencipta. Dalam kehidupan keseharian, pikiran filsafat semacam ini kita jumpai antara lain misalnya:" apa mau dikata, nasibku memang sudah ditakdirkan demikian " dsb.
Golongan kedua adalah IDEALISME SUBJEKTIF, ialah mereka yang berpendapat bahwa ide subjektif kita manusia menentukan keadaan dunia sekeliling. Tokoh yang terkenal adalah Bishop George Berkeley, seorang filsuf Inggris yang menyangkal adanya dunia material secara objektif. Dalam kehidupan keseharian dapat kita jumpai misalnya: " keadaan dunia ini tergantung dari suasana hatimu, bila hatimu bahagia, dunia ini menjadi cerah, tapi bila hati muram, maka dunia menjadi gelap gulita"; " Dunia menjadi hitam jika kamu memakai kaca mata hitam, tapi ia akan menjadi semarak jika mengenalkan warna merah."
Dalam kubu materialisme pun terdapat aneka ragam aliran yang pada pokoknya dibagi menjadi dua golongan. Tetapi, berbeda dengan pembagian dalam kubu idealisme yang berdasarkan pada titik tolak pandang, maka dalam kubu materialisme ini berdasarkan pada metode berpikirnya. Sebab titik pangkal tolak pandangannya adalah sama ialah dunia kenyataan material yang berada di sekeliling kita. Tapi karena cara atau metode memandangnya berbeda, maka hasilnyapun berbeda. Golongan pertama adalah MATERIALISME DIALEKTIS, yaitu filsafat yang memandang dunia semesta ini secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong atau berat sebelah, tidak beku atau statis, melainkan dalam suatu proses perkembangan yang terus menerus tiada akhirnya. Pikiran-pikiran materialisme dialektik inipun dapat kita jumpai dalam kehidupan misalnya, "bumi berputar terus, ada siang ada malam", "habis gelap timbullah terang", "patah tumbuh hilang berganti" dsb. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan kita senantiasa berkembang.
Golongan lainnya adalah MATERIALISME METAFISIK, yang memandang dunia secara sepotong-sepotong atau dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis. Pikiran-pikiran berazaskan golongan ini misalnya:"sekali maling tetap maling", memandang orang sudah ditakdirkan, tidak bisa berubah.
Seperti yang telah dikemukakan bahwa filsafat adalah studi tentang hubungan antara pikiran manusia dan keadaan sekelilingnya, antara dunia subjektif dan dunia objektif. Dalam hubungan antara pikiran atau ide manusia dan keadaan atau kenyataan di sekelilingnya itu, sudah tentu banyak terdapat persoalan. Tetapi di antaranya, yang paling pokok dan mendasar adalah antara pikiran dan keadaan atau antara ide dan materi, yang manakah yang lebih dahulu. Ini menjadi masalah yang terpokok dan paling mendasar, karena setiap sistim filsafat atau pandangan dunia, mau tak mau harus menjawab hal ini. Dan jawabannya adalah menjadi pangkal tolak pandangan filsafatnya.
Dalam dunia filsafat terdapat banyak macam aliran atau sistim filsafat, tetapi jawaban terhadap masalah pokok ini terbagi dalam dua kubu sistim filsafat yang besar. bagi mereka yang berpendapat bahwa pikiran atau ide ada terlebih dahulu atau primer dan keadaan atau materi adalah sekunder, karena dilahirkan atau ditentukan oleh pikiran, maka mereka tergolong dalam kubu IDEALISME. Misalnya mereka yang mengatakan: sebelum gedung pencakar langit itu ada, terlebih dahulu ia sudah ada di dalam otak sang insinyur yang merancang pembangunannya. Kemudian idenya itu dituangkan dalam gambar cetak biru dan akhirnya dibangunlah gedung itu berdasarkan gambar tadi. Jadi gedung itu adalah perwujudan kongkrit dari ide yang sudah ada lebih dahulu. Demikian pula sebelum Indonesia merdeka, ide atau gagasan tentang indonesia itu sudah ada lebih dahulu dalam pikiran pejuang nasional kita, di dalam pikiran rakyat indonesia.
Sebaliknya mereka yang berpendapat, bahwa keadaan atau materi itu primer dan pikiran atau idea itu sekunder, tergolong dalam kubu MATERIALISME. Terlihat misalnya, bahwa keadaan penghidupan manusia yang membutuhkan tempat berteduh telah melahirkan ide di alam pikirannya untuk membangun rumah. Oleh karena di dalam kota-kota besar jumlah penduduk membesar, maka kebutuhan tanah untuk perumahan akan makin besar pula, sehingga harga tanah akan membumbung tinggi, dan keadaan ini yang menimbulkan ide untuk membangun rumah bertingkat. Demikian juga idea tentang Indonesia merdeka dilahirkan oleh keadaan hidup bangsa dan rakyat Indonesia yang menderita karena penindasan dan penghisapan kolonialisme. Jadi idea atau pikiran itu tak lain adalah pemurnian atau refleksi keadaan atau kenyataan yang material.
Dua kubu besar filsafat itu, Idealisme dan materialisme, sejak dari dulu kala sampai sekarang, saling berlawanan dalam segala pandangannya, justru karena jawaban mereka terhadap masalah terpokok tersebut berlawanan. Dengan perkataan lain titik tolak pandangan mereka bertentangan satu sama lain, masing-masing berkeras mempertahankannya. Oleh karena itu, sejarah filsafat pada dasarnya adalah sejarah perjuangan antara materialisme dan Idealisme. Pengalaman sejarah selama ini menunjukkan, pada umumnya, bahwa materialisme selalu mewakili pandangan dunia kelas yang maju, sedangkan idealisme mewakili pandangan dunia kelas yang reaksioner. Ketika borjuasi Eropa melawan kekuasaan feodal, mereka mengangkat materialisme sebagai senjata perlawanan mereka. Misalnya borjuasi Perancis mengibarkan tinggi-tinggi materialisme sewaktu menjelang revolusi besar perancis (1789). Tetapi setelah revolusi demokratis borjuis menang dan kaum borjuis naik tahtah, mereka melemparkan materialisme dan mengibarkan kembali idealisme yang tadinya menjadi senjata ideologis kelas feodal. Kini materialisme umumnya menjadi senjata ideologi dari kelas dan rakyat revolusioner dalam perjuangannya untuk demokrasi dan kebebasannya, dan idealisme menjadi senjata ideologi dari kelas dan penguasa yang reaksioner dan kontra revolusi, anti demokrasi dan anti rakyat.
Di antara dua kubu besar filsafat yang bertentangan keras itu, terdapat suatu aliran filsafat yang kelihatannya sebagai aliran ketiga atau non-blok, tidak berpihak pada monoisme-idealis ataupun monisme-materialis. Mereka berpendapat bahwa antara ide dan materi, antara pikiran dan keadan kongkrit, tak ada yang primer atau sekunder, tak ada yang satu menentukan keadaan yang lain, masing masing saling mempengaruhi. Pendek kata kedua kubu itu "ko-eksistensi secara damai ". Aliran ini dalam ilmu filsafat disebut DUALISME. Tokohnya yang terkenal adalah Immanuel kant, bapak filsafat kelasik jerman abad 19.
Kantianisme ini nampak jelas hendak menempuh jalan kompromi, "jalan tengah", tak mau membenarkan atau berpihak pada manapun, berdiri di tengah-tengah kedua belah bihak yaitu antar materialisme dan idealisme. Padahal ia adalah bagian dari salah satu bentuk idealisme, karena pandangan yang menjadi titik tolaknya adalah karangan idea subjektifnya, tidak sesuai dengan kenyataan objektif. Pandangan yang idealis ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, malahan juga masih terdapat dalam kelompok kaum progresif ataupun yang revolusioner. Misalnya tidak sedikit mereka dapat menerima materialisme, tapi di pihak lain masih belum bisa melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan idealisme (mistik, tahyul dsb) dan banyak di antaranya akhirnya melepaskan materialisme dan jatuh sepenuhnya dalam jurang-jurang idealisme itu.
Sudah tentu dalam kubu idealisme terdapat berbagai aliran atau cabangnya, tapi pada pokoknya dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan pangkal atau titik tolak pandangannya. Golongan pertama, IDEALISME OBJEKTIF, yaitu mereka yang berpangkal tolak dari ide yang secara objektif ada di luar manusia, misalnya, ide Tuhan menurut filsafat agama dan ide absolut menurut filsafat Hegel. Golongan ini umumnya berpendapat, misalnya adanya kehidupan dan alam semesta karena perwujudan dari ide Tuhan sang pencipta. Dalam kehidupan keseharian, pikiran filsafat semacam ini kita jumpai antara lain misalnya:" apa mau dikata, nasibku memang sudah ditakdirkan demikian " dsb.
Golongan kedua adalah IDEALISME SUBJEKTIF, ialah mereka yang berpendapat bahwa ide subjektif kita manusia menentukan keadaan dunia sekeliling. Tokoh yang terkenal adalah Bishop George Berkeley, seorang filsuf Inggris yang menyangkal adanya dunia material secara objektif. Dalam kehidupan keseharian dapat kita jumpai misalnya: " keadaan dunia ini tergantung dari suasana hatimu, bila hatimu bahagia, dunia ini menjadi cerah, tapi bila hati muram, maka dunia menjadi gelap gulita"; " Dunia menjadi hitam jika kamu memakai kaca mata hitam, tapi ia akan menjadi semarak jika mengenalkan warna merah."
Dalam kubu materialisme pun terdapat aneka ragam aliran yang pada pokoknya dibagi menjadi dua golongan. Tetapi, berbeda dengan pembagian dalam kubu idealisme yang berdasarkan pada titik tolak pandang, maka dalam kubu materialisme ini berdasarkan pada metode berpikirnya. Sebab titik pangkal tolak pandangannya adalah sama ialah dunia kenyataan material yang berada di sekeliling kita. Tapi karena cara atau metode memandangnya berbeda, maka hasilnyapun berbeda. Golongan pertama adalah MATERIALISME DIALEKTIS, yaitu filsafat yang memandang dunia semesta ini secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong atau berat sebelah, tidak beku atau statis, melainkan dalam suatu proses perkembangan yang terus menerus tiada akhirnya. Pikiran-pikiran materialisme dialektik inipun dapat kita jumpai dalam kehidupan misalnya, "bumi berputar terus, ada siang ada malam", "habis gelap timbullah terang", "patah tumbuh hilang berganti" dsb. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan kita senantiasa berkembang.
Golongan lainnya adalah MATERIALISME METAFISIK, yang memandang dunia secara sepotong-sepotong atau dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis. Pikiran-pikiran berazaskan golongan ini misalnya:"sekali maling tetap maling", memandang orang sudah ditakdirkan, tidak bisa berubah.
BELAJAR FILSAFAT
- Apakah Filsafat itu?
Banyak orang mengira bahwa filsafat itu tidak dapat atau sulit dimengerti oleh rakyat biasa, dan merupakan salah satu mata kuliah yang paling sulit dan abstrak di dalam perguruan tinggi. Dengan kata lain, filsafat itu di pandang sebagai sesuatu yang tak ada atau sedikit sekali hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Padahal tidak demikian. Pada setiap hari dapat kita jumpai jejak-jejak atau potongan-potongan pikiran filsafat.
Si A yang sudah puluhan tahun merantau di luar negeri pada suatu waktu berkenan untuk pulang ke tanah air Indonesia. Begitu tiba di Jakarta ia dikejutkan dengan wajah betawi yang baru sama sekali baginya, sehingga ia tidak mengenali lagi kampung-kampung yang ia tempati puluhan tahun yang lalu. Jalan-jalan kini lebar-lebar dan licin, bermalang melintang dan penuh dengan berbagai kendaraan bermotor yang membisingkan, gedung-gedung pencakar langit pun menjulang di sana-sini dengan aneka lampu neon yang memberikan pandangan indah pada malam hari, banyak pusat pusat perbelanjaan, Super market atau plaza di samping pasar loak dan kaki lima. Pendek kata, betawi sekarang tidak jauh beda dengan kota-kota besar di Eropa dan Amerika sana, walaupun nampak sangat jorok dengan tumpukan sampah di mana-mana, yang tak pernah dijumpainya di jaman kolonial. Tetapi yang lebih mengejutkan dan juga membanggakan ialah bahwa penguasa kolonial telah tidak ada lagi, penguasa bangsa sendiripun ternyata mampu menjalankan roda pemerintahan. Polisi dan tentara juga tidak kalah galak dan bengisnya dari pada polisi dan tentara di jaman kolonial. Ketika ia di tengah tengah kerabatnya ia mendapati kenyataan banyak di antara mereka yang sudah meninggal dan ada yang menjadi pembesar dan kaya raya, dst.
Hasil pengamatan seperti ini telah memberikan kesan yang mendalam kepadanya bahwa segala sesuatu itu berubah, tidak langgeng. Dan pikiran bahwa SEGALA SESUATU ITU BERUBAH, TIDAK LANGGENG ini adalah sepotong pikiran filsafat, menurut ilmu filsafat inilah pikiran dialektis, yang merupakan bagian dari suatu sistim filsafat dialektika.
Mari kita lanjutkan contoh di atas tadi. Pada suatu ketika si A tadi yang setelah beberapa waktu kembali ke tanah air, memperhatikan lebih dalam kehidupan rakyat kecil, kehidupan kaum buruh, kaum tani dan kaum miskin di perkotaan, serta pengrajin dan nelayan, dan mengetahui bahwa nasib mereka tetap miskin dan sengsara. Di lain pihak, ia melihat pemilik-pemilik modal raksasa asing (kaum Imperialis) masih tetap merajalela dan bahkan menguasai kehidupan perekonomian dan keuangan Indonesia walaupun pemerintahan kolonial sudah tidak ada lagi. Kenyataan-kenyataan yang keras ini telah memberikan suatu kesan padanya bahwa segala sesuatu TETAP TIDAK BERUBAH, SEMUA TETAP DAN LANGGENG. Pikiran semacam inipun, merupakan sepotong pikiran filsafat. Dan dalam ilmu filsafat ini dikenal dengan pikiran stastis, merupakan sebagian dari sistim filsafat metafisika, dalam pengertian non-dialektis.
Dari contoh di atas dapat kita ketahui dengan jelas bahwa suatu pikiran filsafat itu dilahirkan dari pikiran-pikiran yang hidup dalam perjuangan manusia sehari-hari untuk mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya dan mempertinggi martabat kemanusiaan. Sungguhpun demikian, pikiran filsafat tidaklah sama dengan pikiran yang hidup sehari-hari. Di antara keduanya terdapat perbedaan kualitas atau sifat. Sebagaimana yang kita ketahui dari contoh di atas itu, bahwa pikiran sehari-hari itu adalah KHUSUS dan KONGKRIT, misalnya "wajah jakarta berubah", "keadaan politik di Indonesia berubah", "nasib kaum tani dan buruh di indonesia tetap miskin dan sengsara", "penanaman modal asing di Indonesia semakin besar", dsb. Sedangkan pikiran filsafat, yang merupakan penyimpulan dari pikiran-pikiran sehari-hari yang mencerminkan kenyataan-kenyataan khusus dan kongkrit, dan bersifat hakiki, umum dan abstrak.
Kembali pada contoh di atas. bahwa si A pada situasi tertentu timbul kesan: "segala sesuatu senantiasa berubah", tapi pada situasi lain timbul kesan sebaliknya. Lalu bagaimana sebenarnya, apakah segala sesuatu itu berubah atau tidak berubah? Bagi si A yang tidak pernah belajar filsafat atau tidak punya pegangan pada suatu sistim filsafat tertentu, sudah tentu menjadi bingung dan tidak dapat menjawabnya, dan ia akan selalu diombang-ambing oleh perkembangan situasi. DI SINILAH LETAK SALAH SATU ARTI PENTING DARI HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI, APA3a LAGI BAGI KAUM PROGRESIF-REVOLUSIONER.
Mungkin ada kawan yang mengatakan bahwa kenyataan menunjukkan, orang yang tidak belajar filsafat atau tidak memiliki sistim filsafat tertentu toh juga bisa hidup. Memang, tidak memiliki sistim filsafat tertentu bukan berarti tidak bisa hidup, tapi hidupnya akan selalu dalam keadaan meraba-raba atau terombang-ambing oleh keadaan. Lagi pula banyak orang, secara tak sadar memegang sebuah sistim filsafat tertentu, misalnya mereka yang patuh menjalankan ajaran agamanya, sudah mengandung sebuah sistim filsafat tertentu. Demikian juga bagi mereka yang yakin bahwa nasibnya sudah ditentukan hanya oleh Yang Maha Esa, sehingga menerima apa saja adanya, maka secara tidak sadar ia telah berpegang pada fatalisme, bagi mereka yang hidup tanpa pegangan filsafat tertentu, sadar atau tidak selain mudah terombang-ambing oleh keadaan, juga mudah terjerumus ke dalam dunia mistik atau dunia spekulatip, yang tak lain adalah perjudian, yang lebih banyak kegagalan daripada keberhasilan, ia suka bersikap avonturis atau labil
Mengapa sebuah sistim filsafat dapat memberi pedoman hidup pada kita? Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa pikiran filsafat yang merupakan penyimpulan dari pikiran sehari-hari yang khusus dan kongkrit adalah bersifat hakiki, umum dan abstrak. Oleh karena itu maka pikiran-pikiran filsafat dapat memberikan petunjuk kepada kita untuk mengenal hal-hal yang khusus dan konkrit yang selalu kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pikiran-pikiran filsafat yang dilahirkan dari berjuta-juta manusia dalam perjuangan hidupnya sehari-hari, maka para filosof, menurut keyakinannya masing-masing mengadakan penelitian dan seterusnya menyusun sistim filsafat tertentu yang lengkap dan konsisten. Dengan perkataan lain suatu sistim filsafat mencerminkan keadaan dunia semesta ini (alam masyarakat dan pikiran) secara menyeluruh, mendasar dan umum, atau sebuah sistim filsafat itu menyatakan keadaan dunia secara teori; dan dengan teori itu kita gunakan untuk memecahkan masalah-masalah konkrit dan khusus yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah tentu, filsafat itu mengalami perkembangan. Bermula pada jaman Yunani kuno, filsafat sudah mencakup segala macam pengetahuan bahkan segala macam keterampilan, semua seni dan kerajinan tangan (art and craft), sehingga filsafat pada saat itu mengandung arti: suka mengejar segala macam keterangan, pengetahuan dan kebijaksanaan, hingga merupakan bidang yang sangat luas. Dengan makin berkembangnya pengetahuan manusia terhadap dunia sekelilingnya, maka timbulah spesialisasi dalam pengetahuan, terciptalah berbagai macam ilmu pengetahuan khusus, alam ataupun sosial. Akibatnya pengetahuan-pengetahuan satu demi satu keluar dari bingkai filsafat dan memasuki cabang-cabang ilmu khusus masing-masing. Filsafat alam masuk ke dalam ilmu alam, filsafat hukum masuk ke dalam ilmu hukum, filsafat sejarah masuk ke dalam ilmu sejarah dsb. Dan yang terakhir yang keluar dari filsafat adalah ilmu psikologi. Lalu apakah yang masih tertinggal dalam ilmu filsafat? Yang tertinggal adalah cara berpikir atau metode berpikir. Sungguhpun demikian sampai sekarang filsafat masih mempertahan lima subyek persoalan yang diakui oleh umum yaitu: etika, politik, logika, estetika dan metafisika. Secara umum ilmu filsafat adalah suatu bidang studi tentang saling hubungan antara pikiran manusia atau dunia subyektif dengan keadaan di sekelilingnya atau dunia obyektif.
Banyak orang mengira bahwa filsafat itu tidak dapat atau sulit dimengerti oleh rakyat biasa, dan merupakan salah satu mata kuliah yang paling sulit dan abstrak di dalam perguruan tinggi. Dengan kata lain, filsafat itu di pandang sebagai sesuatu yang tak ada atau sedikit sekali hubungannya dengan kehidupan manusia sehari-hari. Padahal tidak demikian. Pada setiap hari dapat kita jumpai jejak-jejak atau potongan-potongan pikiran filsafat.
Si A yang sudah puluhan tahun merantau di luar negeri pada suatu waktu berkenan untuk pulang ke tanah air Indonesia. Begitu tiba di Jakarta ia dikejutkan dengan wajah betawi yang baru sama sekali baginya, sehingga ia tidak mengenali lagi kampung-kampung yang ia tempati puluhan tahun yang lalu. Jalan-jalan kini lebar-lebar dan licin, bermalang melintang dan penuh dengan berbagai kendaraan bermotor yang membisingkan, gedung-gedung pencakar langit pun menjulang di sana-sini dengan aneka lampu neon yang memberikan pandangan indah pada malam hari, banyak pusat pusat perbelanjaan, Super market atau plaza di samping pasar loak dan kaki lima. Pendek kata, betawi sekarang tidak jauh beda dengan kota-kota besar di Eropa dan Amerika sana, walaupun nampak sangat jorok dengan tumpukan sampah di mana-mana, yang tak pernah dijumpainya di jaman kolonial. Tetapi yang lebih mengejutkan dan juga membanggakan ialah bahwa penguasa kolonial telah tidak ada lagi, penguasa bangsa sendiripun ternyata mampu menjalankan roda pemerintahan. Polisi dan tentara juga tidak kalah galak dan bengisnya dari pada polisi dan tentara di jaman kolonial. Ketika ia di tengah tengah kerabatnya ia mendapati kenyataan banyak di antara mereka yang sudah meninggal dan ada yang menjadi pembesar dan kaya raya, dst.
Hasil pengamatan seperti ini telah memberikan kesan yang mendalam kepadanya bahwa segala sesuatu itu berubah, tidak langgeng. Dan pikiran bahwa SEGALA SESUATU ITU BERUBAH, TIDAK LANGGENG ini adalah sepotong pikiran filsafat, menurut ilmu filsafat inilah pikiran dialektis, yang merupakan bagian dari suatu sistim filsafat dialektika.
Mari kita lanjutkan contoh di atas tadi. Pada suatu ketika si A tadi yang setelah beberapa waktu kembali ke tanah air, memperhatikan lebih dalam kehidupan rakyat kecil, kehidupan kaum buruh, kaum tani dan kaum miskin di perkotaan, serta pengrajin dan nelayan, dan mengetahui bahwa nasib mereka tetap miskin dan sengsara. Di lain pihak, ia melihat pemilik-pemilik modal raksasa asing (kaum Imperialis) masih tetap merajalela dan bahkan menguasai kehidupan perekonomian dan keuangan Indonesia walaupun pemerintahan kolonial sudah tidak ada lagi. Kenyataan-kenyataan yang keras ini telah memberikan suatu kesan padanya bahwa segala sesuatu TETAP TIDAK BERUBAH, SEMUA TETAP DAN LANGGENG. Pikiran semacam inipun, merupakan sepotong pikiran filsafat. Dan dalam ilmu filsafat ini dikenal dengan pikiran stastis, merupakan sebagian dari sistim filsafat metafisika, dalam pengertian non-dialektis.
Dari contoh di atas dapat kita ketahui dengan jelas bahwa suatu pikiran filsafat itu dilahirkan dari pikiran-pikiran yang hidup dalam perjuangan manusia sehari-hari untuk mempertahankan dan memperbaiki kehidupannya dan mempertinggi martabat kemanusiaan. Sungguhpun demikian, pikiran filsafat tidaklah sama dengan pikiran yang hidup sehari-hari. Di antara keduanya terdapat perbedaan kualitas atau sifat. Sebagaimana yang kita ketahui dari contoh di atas itu, bahwa pikiran sehari-hari itu adalah KHUSUS dan KONGKRIT, misalnya "wajah jakarta berubah", "keadaan politik di Indonesia berubah", "nasib kaum tani dan buruh di indonesia tetap miskin dan sengsara", "penanaman modal asing di Indonesia semakin besar", dsb. Sedangkan pikiran filsafat, yang merupakan penyimpulan dari pikiran-pikiran sehari-hari yang mencerminkan kenyataan-kenyataan khusus dan kongkrit, dan bersifat hakiki, umum dan abstrak.
Kembali pada contoh di atas. bahwa si A pada situasi tertentu timbul kesan: "segala sesuatu senantiasa berubah", tapi pada situasi lain timbul kesan sebaliknya. Lalu bagaimana sebenarnya, apakah segala sesuatu itu berubah atau tidak berubah? Bagi si A yang tidak pernah belajar filsafat atau tidak punya pegangan pada suatu sistim filsafat tertentu, sudah tentu menjadi bingung dan tidak dapat menjawabnya, dan ia akan selalu diombang-ambing oleh perkembangan situasi. DI SINILAH LETAK SALAH SATU ARTI PENTING DARI HUBUNGAN FILSAFAT DENGAN KEHIDUPAN KITA SEHARI-HARI, APA3a LAGI BAGI KAUM PROGRESIF-REVOLUSIONER.
Mungkin ada kawan yang mengatakan bahwa kenyataan menunjukkan, orang yang tidak belajar filsafat atau tidak memiliki sistim filsafat tertentu toh juga bisa hidup. Memang, tidak memiliki sistim filsafat tertentu bukan berarti tidak bisa hidup, tapi hidupnya akan selalu dalam keadaan meraba-raba atau terombang-ambing oleh keadaan. Lagi pula banyak orang, secara tak sadar memegang sebuah sistim filsafat tertentu, misalnya mereka yang patuh menjalankan ajaran agamanya, sudah mengandung sebuah sistim filsafat tertentu. Demikian juga bagi mereka yang yakin bahwa nasibnya sudah ditentukan hanya oleh Yang Maha Esa, sehingga menerima apa saja adanya, maka secara tidak sadar ia telah berpegang pada fatalisme, bagi mereka yang hidup tanpa pegangan filsafat tertentu, sadar atau tidak selain mudah terombang-ambing oleh keadaan, juga mudah terjerumus ke dalam dunia mistik atau dunia spekulatip, yang tak lain adalah perjudian, yang lebih banyak kegagalan daripada keberhasilan, ia suka bersikap avonturis atau labil
Mengapa sebuah sistim filsafat dapat memberi pedoman hidup pada kita? Sebagaimana yang dikemukakan di atas bahwa pikiran filsafat yang merupakan penyimpulan dari pikiran sehari-hari yang khusus dan kongkrit adalah bersifat hakiki, umum dan abstrak. Oleh karena itu maka pikiran-pikiran filsafat dapat memberikan petunjuk kepada kita untuk mengenal hal-hal yang khusus dan konkrit yang selalu kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Berdasarkan pikiran-pikiran filsafat yang dilahirkan dari berjuta-juta manusia dalam perjuangan hidupnya sehari-hari, maka para filosof, menurut keyakinannya masing-masing mengadakan penelitian dan seterusnya menyusun sistim filsafat tertentu yang lengkap dan konsisten. Dengan perkataan lain suatu sistim filsafat mencerminkan keadaan dunia semesta ini (alam masyarakat dan pikiran) secara menyeluruh, mendasar dan umum, atau sebuah sistim filsafat itu menyatakan keadaan dunia secara teori; dan dengan teori itu kita gunakan untuk memecahkan masalah-masalah konkrit dan khusus yang kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari.
Sudah tentu, filsafat itu mengalami perkembangan. Bermula pada jaman Yunani kuno, filsafat sudah mencakup segala macam pengetahuan bahkan segala macam keterampilan, semua seni dan kerajinan tangan (art and craft), sehingga filsafat pada saat itu mengandung arti: suka mengejar segala macam keterangan, pengetahuan dan kebijaksanaan, hingga merupakan bidang yang sangat luas. Dengan makin berkembangnya pengetahuan manusia terhadap dunia sekelilingnya, maka timbulah spesialisasi dalam pengetahuan, terciptalah berbagai macam ilmu pengetahuan khusus, alam ataupun sosial. Akibatnya pengetahuan-pengetahuan satu demi satu keluar dari bingkai filsafat dan memasuki cabang-cabang ilmu khusus masing-masing. Filsafat alam masuk ke dalam ilmu alam, filsafat hukum masuk ke dalam ilmu hukum, filsafat sejarah masuk ke dalam ilmu sejarah dsb. Dan yang terakhir yang keluar dari filsafat adalah ilmu psikologi. Lalu apakah yang masih tertinggal dalam ilmu filsafat? Yang tertinggal adalah cara berpikir atau metode berpikir. Sungguhpun demikian sampai sekarang filsafat masih mempertahan lima subyek persoalan yang diakui oleh umum yaitu: etika, politik, logika, estetika dan metafisika. Secara umum ilmu filsafat adalah suatu bidang studi tentang saling hubungan antara pikiran manusia atau dunia subyektif dengan keadaan di sekelilingnya atau dunia obyektif.
Langganan:
Postingan (Atom)