KOMUNITAS HIJAU HITAM

mari berbagi ilmu pengetahuan, diskusi, kajian, menggagas dan menemukan ide-ide baru.
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai

06 Januari 2010

LANJUTAN BELAJAR FILSAFAT

- Masalah terpokok dalam Filsafat
Seperti yang telah dikemukakan bahwa filsafat adalah studi tentang hubungan antara pikiran manusia dan keadaan sekelilingnya, antara dunia subjektif dan dunia objektif. Dalam hubungan antara pikiran atau ide manusia dan keadaan atau kenyataan di sekelilingnya itu, sudah tentu banyak terdapat persoalan. Tetapi di antaranya, yang paling pokok dan mendasar adalah antara pikiran dan keadaan atau antara ide dan materi, yang manakah yang lebih dahulu. Ini menjadi masalah yang terpokok dan paling mendasar, karena setiap sistim filsafat atau pandangan dunia, mau tak mau harus menjawab hal ini. Dan jawabannya adalah menjadi pangkal tolak pandangan filsafatnya.
Dalam dunia filsafat terdapat banyak macam aliran atau sistim filsafat, tetapi jawaban terhadap masalah pokok ini terbagi dalam dua kubu sistim filsafat yang besar. bagi mereka yang berpendapat bahwa pikiran atau ide ada terlebih dahulu atau primer dan keadaan atau materi adalah sekunder, karena dilahirkan atau ditentukan oleh pikiran, maka mereka tergolong dalam kubu IDEALISME. Misalnya mereka yang mengatakan: sebelum gedung pencakar langit itu ada, terlebih dahulu ia sudah ada di dalam otak sang insinyur yang merancang pembangunannya. Kemudian idenya itu dituangkan dalam gambar cetak biru dan akhirnya dibangunlah gedung itu berdasarkan gambar tadi. Jadi gedung itu adalah perwujudan kongkrit dari ide yang sudah ada lebih dahulu. Demikian pula sebelum Indonesia merdeka, ide atau gagasan tentang indonesia itu sudah ada lebih dahulu dalam pikiran pejuang nasional kita, di dalam pikiran rakyat indonesia.
Sebaliknya mereka yang berpendapat, bahwa keadaan atau materi itu primer dan pikiran atau idea itu sekunder, tergolong dalam kubu MATERIALISME. Terlihat misalnya, bahwa keadaan penghidupan manusia yang membutuhkan tempat berteduh telah melahirkan ide di alam pikirannya untuk membangun rumah. Oleh karena di dalam kota-kota besar jumlah penduduk membesar, maka kebutuhan tanah untuk perumahan akan makin besar pula, sehingga harga tanah akan membumbung tinggi, dan keadaan ini yang menimbulkan ide untuk membangun rumah bertingkat. Demikian juga idea tentang Indonesia merdeka dilahirkan oleh keadaan hidup bangsa dan rakyat Indonesia yang menderita karena penindasan dan penghisapan kolonialisme. Jadi idea atau pikiran itu tak lain adalah pemurnian atau refleksi keadaan atau kenyataan yang material.
Dua kubu besar filsafat itu, Idealisme dan materialisme, sejak dari dulu kala sampai sekarang, saling berlawanan dalam segala pandangannya, justru karena jawaban mereka terhadap masalah terpokok tersebut berlawanan. Dengan perkataan lain titik tolak pandangan mereka bertentangan satu sama lain, masing-masing berkeras mempertahankannya. Oleh karena itu, sejarah filsafat pada dasarnya adalah sejarah perjuangan antara materialisme dan Idealisme. Pengalaman sejarah selama ini menunjukkan, pada umumnya, bahwa materialisme selalu mewakili pandangan dunia kelas yang maju, sedangkan idealisme mewakili pandangan dunia kelas yang reaksioner. Ketika borjuasi Eropa melawan kekuasaan feodal, mereka mengangkat materialisme sebagai senjata perlawanan mereka. Misalnya borjuasi Perancis mengibarkan tinggi-tinggi materialisme sewaktu menjelang revolusi besar perancis (1789). Tetapi setelah revolusi demokratis borjuis menang dan kaum borjuis naik tahtah, mereka melemparkan materialisme dan mengibarkan kembali idealisme yang tadinya menjadi senjata ideologis kelas feodal. Kini materialisme umumnya menjadi senjata ideologi dari kelas dan rakyat revolusioner dalam perjuangannya untuk demokrasi dan kebebasannya, dan idealisme menjadi senjata ideologi dari kelas dan penguasa yang reaksioner dan kontra revolusi, anti demokrasi dan anti rakyat.
Di antara dua kubu besar filsafat yang bertentangan keras itu, terdapat suatu aliran filsafat yang kelihatannya sebagai aliran ketiga atau non-blok, tidak berpihak pada monoisme-idealis ataupun monisme-materialis. Mereka berpendapat bahwa antara ide dan materi, antara pikiran dan keadan kongkrit, tak ada yang primer atau sekunder, tak ada yang satu menentukan keadaan yang lain, masing masing saling mempengaruhi. Pendek kata kedua kubu itu "ko-eksistensi secara damai ". Aliran ini dalam ilmu filsafat disebut DUALISME. Tokohnya yang terkenal adalah Immanuel kant, bapak filsafat kelasik jerman abad 19.
Kantianisme ini nampak jelas hendak menempuh jalan kompromi, "jalan tengah", tak mau membenarkan atau berpihak pada manapun, berdiri di tengah-tengah kedua belah bihak yaitu antar materialisme dan idealisme. Padahal ia adalah bagian dari salah satu bentuk idealisme, karena pandangan yang menjadi titik tolaknya adalah karangan idea subjektifnya, tidak sesuai dengan kenyataan objektif. Pandangan yang idealis ini banyak kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari, malahan juga masih terdapat dalam kelompok kaum progresif ataupun yang revolusioner. Misalnya tidak sedikit mereka dapat menerima materialisme, tapi di pihak lain masih belum bisa melepaskan dirinya dari ikatan-ikatan idealisme (mistik, tahyul dsb) dan banyak di antaranya akhirnya melepaskan materialisme dan jatuh sepenuhnya dalam jurang-jurang idealisme itu.
Sudah tentu dalam kubu idealisme terdapat berbagai aliran atau cabangnya, tapi pada pokoknya dapat dibagi menjadi dua golongan berdasarkan pangkal atau titik tolak pandangannya. Golongan pertama, IDEALISME OBJEKTIF, yaitu mereka yang berpangkal tolak dari ide yang secara objektif ada di luar manusia, misalnya, ide Tuhan menurut filsafat agama dan ide absolut menurut filsafat Hegel. Golongan ini umumnya berpendapat, misalnya adanya kehidupan dan alam semesta karena perwujudan dari ide Tuhan sang pencipta. Dalam kehidupan keseharian, pikiran filsafat semacam ini kita jumpai antara lain misalnya:" apa mau dikata, nasibku memang sudah ditakdirkan demikian " dsb.
Golongan kedua adalah IDEALISME SUBJEKTIF, ialah mereka yang berpendapat bahwa ide subjektif kita manusia menentukan keadaan dunia sekeliling. Tokoh yang terkenal adalah Bishop George Berkeley, seorang filsuf Inggris yang menyangkal adanya dunia material secara objektif. Dalam kehidupan keseharian dapat kita jumpai misalnya: " keadaan dunia ini tergantung dari suasana hatimu, bila hatimu bahagia, dunia ini menjadi cerah, tapi bila hati muram, maka dunia menjadi gelap gulita"; " Dunia menjadi hitam jika kamu memakai kaca mata hitam, tapi ia akan menjadi semarak jika mengenalkan warna merah."
Dalam kubu materialisme pun terdapat aneka ragam aliran yang pada pokoknya dibagi menjadi dua golongan. Tetapi, berbeda dengan pembagian dalam kubu idealisme yang berdasarkan pada titik tolak pandang, maka dalam kubu materialisme ini berdasarkan pada metode berpikirnya. Sebab titik pangkal tolak pandangannya adalah sama ialah dunia kenyataan material yang berada di sekeliling kita. Tapi karena cara atau metode memandangnya berbeda, maka hasilnyapun berbeda. Golongan pertama adalah MATERIALISME DIALEKTIS, yaitu filsafat yang memandang dunia semesta ini secara keseluruhan, tidak sepotong-sepotong atau berat sebelah, tidak beku atau statis, melainkan dalam suatu proses perkembangan yang terus menerus tiada akhirnya. Pikiran-pikiran materialisme dialektik inipun dapat kita jumpai dalam kehidupan misalnya, "bumi berputar terus, ada siang ada malam", "habis gelap timbullah terang", "patah tumbuh hilang berganti" dsb. Semua pikiran ini menunjukkan bahwa dunia dan kehidupan kita senantiasa berkembang.
Golongan lainnya adalah MATERIALISME METAFISIK, yang memandang dunia secara sepotong-sepotong atau dikotak-kotak, tidak menyeluruh dan statis. Pikiran-pikiran berazaskan golongan ini misalnya:"sekali maling tetap maling", memandang orang sudah ditakdirkan, tidak bisa berubah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

bagaimana menurut anda?

LAMBANG HMI

LAMBANG HMI