KOMUNITAS HIJAU HITAM

mari berbagi ilmu pengetahuan, diskusi, kajian, menggagas dan menemukan ide-ide baru.
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai

28 Mei 2009

SEBUAH CATATAN TENTANG PEREMPUAN

Perempuan seringkali menjadi bahan pembicaraan yang menarik, sekaligus pembicara yang aktif. Dan kali ini, saya akan menggabungkan keduanya: Berbicara tentang perempuan sebagai seorang perempuan. Bukan sebagai wanita kosmopolis, gadis konvensional yang lugu, ataupun seorang feminis. Saya tidak suka istilah-istilah tersebut, karena di dalamnya telah terjadi reduksi nilai-nilai secara besar-besaran yang akhirnya membuat mereka menjadi tidak berarti sama sekali.

Lalu apakah pengertian perempuan? Bagi saya, perempuan adalah manusia yang terlahir dengan ciri-ciri fisik tertentu, yang berpengaruh pada perilaku gender-nya, dan memiliki kekuatan tak terbatas dalam jiwanya. Saya tidak mengatakan bahwa perempuan adalah pemilik gender feminin karena perempuan mempunyai wewenang untuk menjadi seorang androgyny. Saya juga tidak mengatakan bahwa perempuan adalah “lawan” atau “kebalikan” dari laki-laki karena kedua jenis kelamin mempunyai hubungan komplementer. Dan mengapa saya menyinggung tentang kekuatan jiwa? Tentunya bukan karena saya sedang belajar psikologi yang sarjananya dianggap sebagai pecundang entah sejak kapan tapi karena saya telah menyaksikan sendiri banyak perempuan yang mampu menaklukkan berbagai rintangan dengan kekuatan jiwanya. Bukankah sejarah telah membuktikan bahwa perempuan selalu mengalami banyak masalah menyangkut keberadaannya?

Seorang perempuan yang cukup konvensional pernah berkata pada saya, “Perempuan itu seperti uang kertas, sedangkan laki-laki adalah uang logam. Ia tidak boleh sobek sedikitpun, karena tidak akan ada yang mau menerimanya bila ia tidak lagi utuh.” Perkataan itu didapatkannya secara turun menurun dari nenek dan ibunya. Sebuah wejangan khas tentang sakralnya kesucian tubuh seorang perempuan. Hal tersebut merupakan suatu masalah unik yang dihadapi perempuan Indonesia dari zaman ke zaman. Sebagai “penganut nilai-nilai Timur”, anak-anak gadis akan mendapat ceramah dari ibunya mengenai keperawanan di masa akil baliq. Dan sebagai calon istri, ditanamkan pula soal bagaimana harus menghormati suami dalam aturan-aturan yang “seharusnya”. Perempuan bahkan seringkali dikenakan kewajiban tentang bagaimana berperilaku “sesuai kodratnya”; melahirkan, bertanggung jawab atas anak-anaknya, dan mengurus rumah tangga. Fenomena seperti ini memang bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi sebagai bangsa dengan budaya-budaya yang unik, perempuan Indonesia memiliki ceritanya sendiri.

Budaya feodalisme telah menjadikan perempuan sebagai obyek belaka. Banyak kewajiban dan sedikit hak. Selama berabad-abad, sebagian besar perempuan Indonesia – terutama mereka yang terikat pada budaya Jawa – telah kehilangan hak bicara di depan laki-laki. Walaupun perempuan Jawa zaman sekarang sudah tidak dilarang mengenyam pendidikan, di dalam kedudukan sosial, mereka tetap dinomorduakan. Apabila kita memperhatikan kesenian-kesenian daerah, terutama seni tari, di Indonesia, tentu “peran” perempuan sebagai obyek seks akan jelas terlihat. Sebagai contoh, tari Cokek dalam kebudayaan Betawi dan tari Jaipongan dalam kebudayaan Sunda. Keduanya secara gamblang “menjual” keindahan dan daya rangsang tubuh perempuan. Contoh tersebut tentu bukanlah suatu kebetulan dalam sebuah kebudayaan. Kebudayaan mencerminkan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakatnya. Sebagai perbandingan, perhatikanlah tarian balet yang merupakan kebudayaan Rusia. Dengan memakai kostum yang memperlihatkan sebagian besar bagian tubuh, tidak ditemukan kesan “menjual” perempuan. Juga pada tarian kontemporer yang berkembang di negara-negara Barat, gerakan-gerakan yang libidinal tidak menjadikan perempuan yang menari sebagai simbol seks semata. Mungkin Putri Malam yang sedang tenar dengan goyangannya di layar kaca setiap Sabtu malam juga merupakan manifestasi dari cara budaya memperlakukan perempuan.

Kemudian bagaimana dengan agama? Sebagai salah satu pegangan norma yang masih kental di masyarakat Indonesia, tentunya agama sangat berpengaruh terhadap kedudukan perempuan. Menurut Anne Marie Schimmel (1), dalam Islam, sebagaimana juga dalam setiap agama, unity, yang kemudian mewujud dalam dualitas, dan selanjutnya pluralitas, adalah prinsip sentral. Karena itu, bagaimana mungkin sisi feminin dan maskulin, lelaki dan perempuan, dalam kehidupan tidak dilihat sebagai sama pentingnya? Namun Schimmel juga menuliskan bahwa golongan feminisme telah kehilangan kepercayaannya pada agama, yang terbukti dalam sejarahnya, cenderung mensubordinasikan dan menindas perempuan. Padahal, sejarah juga menunjukkan bahwa perempuan selalu menjadi sahabat terbaik bagi agama, tetapi agama, terutama dalam prakteknya, justru sangat tidak bersahabat terhadap perempuan.

Berbicara soal agama rasanya memang tidak adil apabila mengidentikkannya dengan ajaran-ajaran agama itu sendiri. Karena apa yang diterima masyarakat, terutama perempuan, adalah apa yang terjadi dalam penerapannya, dan bukannya apa yang menjadi kondisi ideal seperti yang dituliskan dalam kitab-kitab suci. Saya pikir tidak perlu lagi alasan klise seperti, “Yang salah manusianya, manusia tidak mengerti apa inti dari agama” atau hal-hal serupa. Lebih baik kita bersikap realistis dalam menghadapi persoalan perempuan dalam agama. Dalam realitas kehidupan beragama, perempuan tetap menjadi subordinat dari laki-laki. Agama tertentu membolehkan poligami sehingga pada kenyataannya telah “melegalkan” perempuan, lagi-lagi, sebagai obyek seks. Umat beragama yang percaya pada penciptaan Adam dan Hawa, cenderung menyalahkan Hawa sehingga mereka berdua terlempar ke bumi. Mengapa harus Hawa yang “dikabarkan” menggoda Adam untuk memakan buah terlarang?
Membahas hal-hal seperti budaya, adat dan agama, yang bagi banyak orang merupakan hal absolut, adalah suatu upaya penting dalam menarik akar dari persoalan mengenai perempuan. Melihat dari kenyataan yang ada, perempuan hampir tidak pernah dipandang sebagai subyek; sebagai manusia yang utuh. Perempuan dalam tubuhnya adalah obyek yang tercipta untuk dinikmati dan melakukan serangkaian kewajiban. Adanya nilai-nilai sakral tentang kesucian tubuh sebelum menikah telah mereduksi perempuan menjadi hanya tinggal tubuh dengan permatanya berupa selaput dara. Tidak ada penekanan pada alasan logis seperti masalah konsekuensi perbuatan dan keberanian bertanggung jawab, yang ada hanya “kesucian”. Adanya hukum perzinahan yang akhirnya membatasi persetubuhan dengan “surat nikah” telah menjadikan pandangan yang sangat menyedihkan di dalam masyarakat tentang arti sebuah perkawinan. Perempuan-perempuan yang dididik seperti ini tentu tidak akan mengerti tentang spiritualitas seks yang melebihi arti tubuh itu sendiri. Bukankah tubuh menjadi berarti ketika ia menjadi media bagi spiritualitas? Tubuh dan jiwa tidak dapat dipisahkan begitu saja. Dan sebagian besar perempuan Indonesia masih berpendapat demikian, juga dalam dunia modern yang marak dengan gerakan feminisme.

Seperti yang telah saya sebutkan di atas, saya tidak suka menggunakan istilah feminisme. Gerakan ini seringkali dipicu oleh dendam yang membara pada laki-laki sebagai pihak yang dianggap menindas perempuan. Pada akhirnya ada suatu penilaian yang sama sekali salah tentang persamaan hak antara laki-laki dan perempuan; tentang anak dan keluarga, karier, serta peran perempuan di dunia sosial.

Kapitalisme di Amerika telah melahirkan konsep “wanita kosmopolis” yang mengeksploitasi “potensi” perempuan. Wanita kosmopolitan harus menyenangkan dan tidak gentar terhadap apapun. Majalah-majalah wanita kosmopolitan menyuguhkan bagaimana cara berpakaian yang tepat dan sedang in, bagaimana mengunakan sex appeal di kantor sebagai anak tangga menuju karier yang sukses, bagaimana cara membuat perempuan menjadi bintang pesta, berkepribadian, percaya diri, dan tentu saja, hebat di tempat tidur. Wanita kosmopolitan tidak memasak dan mengurus popok bayi, wanita kosmopolitan tidak takut lajang [siapa butuh lelaki?], dan wanita kosmopolitan harus mampu bertahan seorang diri dalam dunia global. Bagi saya ini salah satu bias dari feminisme yang kita kenal dewasa ini. Bukankah ini hanya mengasah sedikit bagian otak ini dan otak itu tanpa memperhitungkan kekuatan jiwa yang sebenarnya? Bukankah ini juga merupakan salah satu manifestasi dari dipandangnya perempuan sebagai obyek? Bukankah wanita-wanita kosmopolitan ini juga memisahkan pengertian antara tubuh dan jiwa? Lalu apa bedanya dengan para perempuan konvensional? Bukankah mereka sama-sama terikat walaupun dalam topeng yang berlainan?

Bisa dikatakan saat ini ada dikotomi yang terlihat. Untuk lebih jelasnya, saya akan menyajikan sebuah contoh, yaitu ada perawan sholeh yang mati-matian menjaga auratnya dari pandangan laki-laki, dan ada pula cewek-cewek modis yang pergi ke Plasa Senayan hanya untuk mejeng dan ngerumpi di sekeliling lingkaran di dekat lift. Tapi saya dapat menarik persamaan dari keduanya: Sama-sama bodoh. Sama-sama hidup tanpa sebuah makna yang berharga.

Mungkin saya akan menggunakan istilah post-feminisme. Pada masa ini, sudah bukan saatnya kita hanya menggali-gali “hutang” lelaki pada perempuan yang telah terjadi selama berabad-abad. Cobalah berpikir, apa yang akan terjadi pada perempuan Indonesia beberapa tahun ke depan? Di satu sisi, perempuan masih terikat pada norma-norma yang mengikutsertakan kodrat sebagai patokan. Sedangkan di sisi lain, perempuan Indonesia mulai tergiur oleh konsep kosmopolitan yang mengutamakan kebebasan. Menurut pendapat saya, sebagian besar perempuan Indonesia patut dikasihani. Terutama berkaitan dengan konsep diri (2). Karena begitu banyak nilai-nilai yang harus dipegang, maka mereka kehilangan diri mereka sendiri. Mereka tidak berani memaknai hidup mereka dengan nilai-nilai sendiri yang telah diolah dengan matang. Mereka hanya mengadopsi nilai-nilai “dikenakan” pada diri mereka oleh masyarakat. Dan akhirnya yang ada hanyalah konsep nilai umum, bukan konsep diri. Hal ini cenderung “menyamaratakan” identitas perempuan Indonesia yang dapat dibilang naif.

Terbiasa dengan suapan-suapan nilai sejak kecil menjadikan mereka terpenjara. Dan apabila hal itu telah terakumulasi, rasa ingin bebas akan sangat menggebu-gebu. Tetapi karena mereka tidak memiliki kemampuan untuk menciptakan ataupun mengolah nilai, maka mereka akan merasa memperoleh kebebasan ketika mengambil nilai-nilai yang bertentangan dengan yang mereka kenal. Misalnya, perempuan yang sangat patuh pada adat dan agama bisa jadi berubah menjadi wanita modern dengan nilai-nilai Barat. Baginya, itu merupakan suatu kebebasan, padahal ia hanya pindah penjara. Atau karena terbiasa dengan dominasi laki-laki di keluarga dan lingkungannya, ketika dewasa seorang perempuan tidak mau menikah dengan alasan tidak mau tunduk pada laki-laki. Padahal, bila saja ia menyadari, dengan hubungan yang matang, laki-laki dan perempuan bisa saling membangun dan mengasihi dalam menciptakan hidup yang lebih baik.

Post-feminisme, dimana laki-laki dan perempuan bisa menyadari dan mengatur sendiri perannya dengan nilai-nilai yang mereka ciptakan sendiri, atau dengan sekedar mengolah dengan baik filosofi dari nilai-nilai yang sudah ada, harus melibatkan berbagai pihak. Budaya maupun agama tidak boleh mengekang perempuan untuk mandiri secara nilai. Perempuan harus belajar untuk menentukan pilihan dan bertanggung jawab atas pilihannya tersebut. Perempuan harus mengenal konsekuensi dan resiko, bukan hanya hasil akhir. Apabila perempuan bisa mencapai keadaan seperti itu, tentu hal-hal yang meresahkan bagi mereka seperti kekerasan, pelecehan dan penindasan bukan lagi hal yang sulit diatasi. Tentu kolom konsultasi psikologi tidak akan dipenuhi pertanyaan-pertanyaan menggemaskan seperti yang sering kita jumpai; tentang bagaimana mengatasi suami yang cuek atau kasar, mengatasi mertua, atau pihak ketiga.

LSM yang menangani masalah perempuan ataupun para feminis hendaknya tidak hanya berpikir tentang bagaimana cara mengalahkan laki-laki, tapi bangun dulu secara perlahan-lahan kepercayaan seorang perempuan akan kekuatan yang dimiliki jiwanya. Apabila selama beribu-ribu tahun perempuan bisa bertahan dalam ketidakadilan, mengapa kita tidak bisa melangkah pada keadaan yang lebih baik? Perempuan Indonesia masih memiliki kecenderungan terbuai di dalam “nomor dua”, sehingga kekuatan yang selalu digunakan dalam menghadapi masalah kemudian malah berakhir dengan keluhan-keluhan, yang kemudian diturunkan pada anak cucu. Dan akhirnya menimbulkan dendam. Hal ini terus berputar membentuk suatu lingkaran. Alangkah baiknya bila kekuatan yang dimiliki perempuan digunakan untuk berusaha keluar dari lingkaran itu. Tidak ada ruginya berpikir lebih jauh untuk jangka panjang.

Teman dekat saya, seorang laki-laki, berpendapat bahwa selama ini sejarah telah membuktikan bahwa laki-laki bisa “menang” dan mendapatkan hegemoni atas perempuan dalam kehidupan sosial adalah karena kemampuan public relations-nya. Mereka mampu “menjual” nilai tentang “perempuan idaman”, di antaranya yang masih utuh dengan selaput dara, dan mengabdikan diri sepenuhnya untuk suaminya. Saya pikir hal ini merupakan base yang baik untuk mencari jalan keluar bagi ketidakadilan yang sering dirasakan perempuan; apabila para perempuan bisa mandiri dalam berpikir, tentu tidak akan sulit untuk menghapuskan nilai-nilai patriarki yang sewenang-wenang.

Misalnya, mengingat bahwa hidup yang lengkap menurut saya harus mencakup sisi fisik, mental, emosional dan spiritual, maka perempuan juga harus berusaha untuk mengembangkan keempat dimensi tersebut. Kecenderungan yang terjadi pada perempuan, yang mungkin juga disebabkan oleh kelihaian laki-laki dalam menjual nilai, adalah pengembangan yang berpusat hanya pada sisi fisik dan emosional. Sedangkan sisi mental dan spiritual sendiri terabaikan. Padahal tidak mustahil bagi perempuan untuk mengembangkan kemampuan kognitifnya sehingga “kecerdasan” tidak lagi menjadi hal aneh yang seakan-akan terpisahkan dari fisik yang aduhai. Kemudian dari sisi spiritualitas, alangkah baiknya bila perempuan juga mampu menemukan dan mengasah “ke-iman-an” yang bukan termanifestasi dalam dogma-dogma yang telah berakar dan kemudian ditelan mentah-mentah.
Dengan demikian, kekuatan jiwa yang dimiliki perempuan, tidak lagi merupakan sebuah potensi belaka. Tetapi hal tersebut dapat disadari dan dikembangkan secara nyata untuk memperoleh hidup yang bermakna. Dan kemudian, mungkin giliran laki-laki yang mengasah kekuatan jiwa. Dengan bantuan perempuan, tentunya.

Dalam bentuk sederhana, kita dapat mengatakan bahwa, secara psikologis, “kekuatan” perempuan bisa digali dan dimanfaatkan untuk menyeimbangkan kelabilan emosional dan “pendewaan tubuh” yang seringkali menyertai mereka. Perempuan juga bisa melindungi, bahkan melindungi laki-laki. Perempuan bisa berpikir rasional sekaligus menyertakan keindahan di dalamnya. Alam melahirkan perempuan dan laki-laki untuk saling melengkapi. Dan keduanya memiliki keunggulan dan kelemahan. Sekarang tinggal bagaimana cara memiliki kemampuan untuk mengaturnya; secara holistik.

Hari Kartini yang biasanya dijadikan momentum untuk menyoroti perempuan mungkin sudah lewat. Tetapi saya rasa tidak ada kata terlambat untuk berkata, “Selamat Berjuang Untuk Menjadi Manusia yang Utuh.”

AKU SEORANG PEREMPUAN

Aku seorang perempuan
Aku harus segera menikah, menurut kodrat katanya...
Tiba-tiba telah hadir seorang tuan dalam hidupku
Dia atur segala nafasku
Dan gilanya lagi, dalam tempurung kepala tuan itu
Hanya ada seks dan segala tetek bengek pekerjaan rumah tangga
"... Kopiku, kemejaku, makananku..."
Begitu suara sumbangnya tiap hari pekakkan telinga,
Pusingkan kepala aku siap mengasihimu, juga anak-anakku
Aku siap membesarkan anak-anakku dengan susu segar
Yang memancar deras dari ranumnya payudaraku
Karena aku sadar
Air susuku itu jauh lebih bergizi daripada susu kaleng buatan pabrik si babah liem c.s.
Tapi bukan berarti otakku harus berhenti di sini
Biarkan aku melangkah dengan cita yang ada
Sebelum aku lahir
Sebelum aku kawin
Sebelum aku beranak
Jangan jadikan aku seperti robot buatan negara maju
Negara-negara yang selama ini dengan rakus curi kekayaan negriku lewat tangan-tangan kotor boneka-bonekanya
Terpaksa aku buang cincin ini ke dalam lubang taik
Agar nafsu jalang mu terpadamkan
Aku siap hidup bersamamu membangun sebuah keluarga
Tapi aku tak ingin sekedar bermain cinta
Dengan laki-laki bodoh macam kau
Mendekatlah padaku tuan
Rasakan nafas ku
Tercium disitu aroma segar darah rakyat
Anyir dan perih
Untuk itulah jiwa, hati, pikiran dan fisikku
Bukan sebagai persembahan untuk hasrat primitifmu
"....kerja....ranjang...." "....kerja....ranjang...."
Bah bedebah,
Betapa tak menariknya hidup yang paksakan padaku
Bah bedebah,
Aku tak ingin jadi perempuan malang

20 Mei 2009

BAJU BODO

Baju bodo adalah baju adat Bugis-Makassar yang dikenakan oleh perempuan. Sedangkan Lipa’ sabbe adalah sarung sutra, biasanya bercorak kotak dan dipakai sebagai bawahan baju bodo.

Konon dahulu kala, ada peraturan mengenai pemakaian baju bodo. Masing-masing warna manunjukkan tingkat usia perempuan yang mengenakannya.
1. Warna jingga, dipakai oleh perempuan umur 10 tahun.
2. Warna jingga dan merah darah digunakan oleh perempuan umur 10-14 tahun.
3. Warna merah darah untuk 17-25 tahun.
4. Warna putih digunakan oleh para inang dan dukun.
5. Warna hijau diperuntukkan bagi puteri bangsawan
6. Warna ungu dipakai oleh para janda.

Selain peraturan pemakaian baju bodo itu, dahulu juga masih sering didapati perempuan Bugis-Makassar yang mengenakan Baju Bodo sebagai pakaian pesta, misalnya pada pesta pernikahan. Akan tetapi saat ini, baju adat ini sudah semakin terkikis oleh perubahan zaman. Baju bodo kini terpinggirkan, digantikan oleh kebaya modern, gaun malam yang katanya modis, atau busana-busana yang lebih simpel dan mengikuti trend.

Walau dengan keterpinggirannya, Baju bodo kini tetap dikenakan oleh mempelai perempuan dalam resepsi pernikahan ataupun akad nikah. Begitu pula untuk passappi’-nya (Pendamping mempelai, biasanya anak-anak). Juga digunakan oleh pagar ayu

Kekuasaan Raja, Syeikh, Simbolik dan Kekuasaan Tradisional Makassar

DALAM rentangan seribu tahun, sejak tahun 600-1600, Laut Jawa didominasi oleh lingkaran kerajaan-kerajaan maritim yang penguasanya terlibat dalam penjarahan, perdaganan dan pernikahan jarak jauh. Kekuasaan Raja, Syeikh, dan Ambtenaar menjelajahi proses ekonomi, politik dan simbolik yang menggabungkan masyarakat Makassar ke dalam sistem regional. Ketika kekaisaran seperti Sriwijaya, Kediri dan Melaka menggenggam hegemoni atas wilayah ini, mereka memperkenalkan model-model baru kerajaan di wilayah pinggiran seperti Makassar di pesisir Sulawesi Selatan. Saat model demi model kuasa istana bergantian duduk di singgasana, model ini melekat ke dalam mitos dan ritual lokal. Tatkala raja-raja Sulawesi Selatan memeluk Islam di awal abad ke 17, setidaknya ada enam model kekuasaan yang hadir di wilayah ini. Islam memperkenalkan model-model religius dan politik yang baru, dan menambahkan kompleksitas simbolis di kawasan ini.

Untuk memahami lebih baik kaitan antara pengetahuan simbolik dan kekuasaan tradisional istana di masyarakat Makassar, Thomas Gibson menggunakan banyak jenis sumber dari beragam disiplin akademik. Dia menunjukkan bagaimana mitos dan ritual menghubungkan bentuk pengetahuan praktis (pembuatan perahu, navigasi, pertanian, peperangan) dengan kategori-kategori dasar seperti gender dan pelapisan berdasar keturunan, serta fenomena alam, ruang angkasa dan kosmologis. Dia juga memperlihatkan bagaimana agen-agen historis menggunakan infrastruktur simbolik ini untuk menggapai tujuan politik dan ideologisnya.

Gibson menyimpulkan dengan meletakkan bahan ini dalam kaitannya dengan Islam dan ritual-ritual siklus hidup. Gibson melakukan analisis antropologis, mitologis, tekstual dan historis untuk memperlihatkan bahwa pengetahuan simbolik Makassar tidak tersusun oleh seamless whole. Melainkan terbangun dari beragam model yang saling bersaing, masing-masing dengan asal-usul historis dan sumber geografis yang unik. Buku ini menarik bagi mereka yang mendalami antropologi, folklor, sejarah dan ilmu politik perbandingan; dan bidang interdisiplin yang baru mencuat, kajian budaya, subaltern dan poskolonial; serta asal-usul globalisme dan transnasionalisme.

TAN MALAKA, Lembah Bengawan Solo, 15 Maret 1946.

Ditulis di Rawajati dekat pabrik sepatu Kalibata Cililitan Jakarta. Disini saya berdiam dari 15 juli 1942 sampai dengan pertengahan tahun 1943, mempelajari keadaan kota dan kampung Indonesia yang lebih dari 20 tahun ditinggalkan. Waktu yang dipakai buat menulis Madilog, ialah lebih kurang 8 bulan dari 15 juli 1942 sampai dengan 30 maret 1943 (berhenti 15 hari), 720 jam, ialah kira-kira 3 jam sehari.

Buku yang lain ialah Gabungan Aslia sudah pula setengah di tulis. Tetapi terpaksa ditunda. Sebab yang pertama karena kehabisan uang. Kedua sebab sang Polisi, Yuansa namanya diwaktu itu, sudah 2 kali datang memeriksa dan menggeledah rumah lebih tepat lagi “pondok’’ tempat saya tinggal. Lantaran huruf madilog dan Gabungan Aslia terlampau kecil dan ditaruh di tempat yang tiada mengambil perhatian sama sekali, maka terlindung ia dari mata polisi. Terpeliharalah pula kedua kitab itu dan pengarangnya sendiri seterusnya dari mata dan tongkat kempei Jepang.

Lantaran hawa kediaman saya itu sudah agak panas dan bahaya kelaparan sudah mengintip, maka terpaksalah saya memberhentikan pekerjaan saya meneruskan menulis Gabungan Aslia. Saya bertualang di daerah Banten mencari nafkah sambil memperlindungkan diri pula.

Akhirnya saya dapat pekerjaan tetap di Tambang Arang, Bayah. Disinilah saya mendapat pekerjaan sedikit lebih tinggi dari romusha biasa, (maklumlah orang tak punya diploma dan surat keterangan!) sampai menjadi pengurus semua romusha dan penduduk kota Bayah dan sekitarnya dalam hal makanan, kesehatan, pulang-pergi dan sakit matinya romusha ribuan orang, dengan perantaraan kantor urusan prajurit pekerja.

Sebagai ketua Badan Pembantu Pembelaan (BPP) dan Badan Pembantu Prajurit Pekerja (BP3), saya akhirnya sampai dipilih menjadi wakil daerah Banten ke kongres Angkatan Muda yang dijanjikan di Jakarta, tetapi tak jadi itu (bulan Juni 1945). Disinilah saya berjumpa dengan pemuda seperti Sukarni, Chairul Saleh, dll. yang sekarang mengambil bagian dalam pergerakan Persatuan Perjuangan. Juga dengan pemuda lainnya umpamanya seorang jurnalis yang amat dikenal di sekitar Bayah ketika itu, tak lebih dan tak kurang dari Bang Bejat, alias Anwar Tjokroaminoto dan saudaranya. Resan minyak ke minyak, resan air ke air, kata pepatah.

Demikianlah pengarang ini yang pada masa Jepang itu memperkenalkan dirinya dengan nama ILJAS HUSSEIN, dengan jalan memutar sampai juga ke golongan yang dicari yang mulai mengambil bagian besar dalam pergerakan kemerdekaan Indonesia, pada tanggal 17 Agustus 1945, ialah golongan pemuda. Pekerjaan revolusioner di samping pemuda itu sampai sekarang terus berlaku, yakni Persatuan Perjuangan yang sudah mulai menulis sejarah. Atas permintaan pemuda pulalah Madilog sekarang akan disebarkan di antara mereka yang rasanya sanggup menerimanya.

Pena merayap di atas kertas dekat Cililitan, di bawah sayapnya pesawat Jepang yang setiap hari mendengungkan kecerobohannya di atas pondok saya. Madilog ikut lari bersembunyi ke Bayah Banten, ikut pergi mengantarkan romusha ke Jawa tengah dan ikut menggeleng-geleng kepala memperhatikan proklamasi Republik Indonesia. Di belakang sekali ikut pula ditangkap di Surabaya bersama pengarangnya, berhubung dengan gara-gara Tan Malaka palsu………………bahkan hampir saja Madilog hilang.

Baru 3 tahun sesudah lahirnya itu, Madilog sekarang memperkenalkan dirinya kepada mereka yang sudi menerimanya. Mereka yang sudah mendapat minimum latihan otak, berhati lapang dan seksama serta akhirnya berkemauan keras buat memahamkannya.


18 Mei 2009

Penyulut Etika Tak Beretika

PENYULUT ETIKA TAK BERETIKA

Salam mahasiswa…

Sungguh ironis memang ketika kita sering mendendangkan etika tapi kita sendiri bingung akan hali ini. Sangat lucu ketika kita memaksa seseorang untuk beretika tetapi kita sendiri sering melanggar hal ini. Sebenarnya rancu karena ada segelintir kawan-kawan kita yang mengidentikkan etika dengan bukti autentik. Sudah sangat jauh dari etika itu sendiri. Apakah kita sudah berhak melakukan segala tindakan dengan bukti yang bernama “surat izin” itu. Lucu memang lucu. Apa bedanya kita dengan penegak hukum yang tiba-tiba mengobrak-abrik rumah seseorang tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan? Padahal kita ini adalah mahasiswa yang sering menyuarakan kebenaran. Apalagi kita punya kekuatan dalam menghegemoni wacana?

Sering juga kita melihat bagaimana pertengkaran lembaga hanya dikarenakan hal-hal yang sangat tidak penting. Di mana etika masing-masing lembaga? Padahal kita ini adalah lingkungan intelektual. Kalau kita ingin jujur maka setiap lembaga punya aturan tersendiri, tetapi harus kita ingat bahwa peraturan itu jangan sampai membuat lembaga lain marah, karena kebebasan itu harusalah tak mengganggu hak yang lain apalagi sampai membuat mereka kesal di rumah mereka sendiri. Sudah saatnyalah kita merubah paradigma yang selama ini kita pahami. Sudah saatnyalah kita melepasakan egoisme lembaga kita. Memang saat ini harus diakui bahwa siapa yang dekat dengan penguasa, maka akan memiliki legitimasi yang kuat ketimbang lembaga yang tahunya hanya melawan pemerintah.

Sungguh indah ketika lembaga-lembaga saling mengedepankan akhlak dan etika di atas egoisme mereka. Jangan karena mempunyai legitimasi dari birokrat “yang terhormat” sehingga kita menginjak hak-hak orang lain. Dan parahnya lagi kita beralasan bahwa ini dilakukan demi kebebasan individu. Apakah kebebasan individu/ lembaga harus menginjak-injak nilai persaudaraan kita.Hanya, hal ini akan berjalan mulus kalau lembaga-lembaga senatiasa sadar diri akan hak dan kewajibannya. Jangan hanya mengatakan akan memperbaiki kondisi lembaga kekinian padahal tak ada sedikitpun niat di dalam hatinya untuk melaksanakan ini semua.

Semoga Tuhan memberikan RahmatNya kepada kita semua. Dan semoga nilai-nilai perjuangan kita tak akan pernah redup menghiasi perputaran dunia ini.


Hidup mahasiswa…

Perlunya Kearifan Lokal Pada Pendidikan Di Indonesia

Mungkin kita mengetahui bahwa pada tanggal 2 Mei sering diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tetapi melihat wajah pendidikan indonesia belakangan ini sangat menyedihkan buat kita. Melihat para penerus bangsa ini tidak selayaknya mendapatkan pendidikan sebagaimana yang kita harapkan.

Apakah saudara sering menonton berita ? melihat siswa-siswa yang dijadikan bak ayam aduan disebuah ring dan sang wasitnya adalah guru mereka sendiri. Bukan hanya itu saja video-video mesum yang beredar luas pada masyarakat kita tidak lain mempertontonkan Siswa dan Mahasiswa yang tidak lagi mempunyai norma agama. Melihat kejadian-kejadian yang sangat memilukan buat dunia pendidikan ini, sangat diperlukanya sebuah kurikulum baru yang memasukkan nilai-nilai kearifan lokal budaya indonesia yang sebenarnya lebih kaya dari nilai kearifan lokal budaya luar.

Lantas, 60 tahun setelah kita merdeka adakah capai-capaian budaya membanggakan yang kita raih? Ataukah malah krisis budaya benar-benar telah mengempaskan kita ke keterpurukan ekonomi dan ke ketertinggalan kematangan sosial politik yang amat memilukan?. Selama ini budaya atau kebudayaan terlalu sering dibicarakan dalam tema-tema besar yang serba abstrak. Seperti dalam pidato-pidato kebudayaan yang menuntut refleksi yang dalam dan kecerdasan nalar-logika yang rumit. Tentu saja ruang-ruang perenungan budaya seperti ini penting. Tapi, sesungguhnya untuk saat ini yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita memandang budaya dengan sederhana. Budaya kita lihat saja dalam kecenderungan sikap, laku, tindak, dan tutur kata kita sehari-hari yang amat kasat mata. Katakanlah, mengikuti istilah pemikir budaya mutakhir, sebagai budaya kehidupan sehari-hari (culture of everyday life).

Bagi Masyarakat Bugis Makassar sendiri nilai kearifan lokal seakan betul-betul dilupakan pada dunia pendidikan di Sulawesi selatan padahal bila melihat secara kasat mata di Sulawesi selatan sendiri Kebudayaan sangatlah Ketal di mata Masyarakatnya. Bila Merulut kebelakang kita masih mendapatkan sebuah mata pelajaran muatan lokal yang dimana mengajarkan kepada siswa bagaimana mengenal kebudayaan mereka, tulisan budaya mereka tapi itu juga hanya terjadi pada pendidikan di kabupaten.

Masih adakah secercah Harapan untun kebudayaan klasik kita ? yang dimana nilai kearifan lokal yang kaya dan beragam jenis, Keindahan dari coretan sebuah Lontara yang menentramkan jiwa, mendengar lantunan indah Sure dan Rinrili yang terlupakan. Semoga itu semua dapat kembali lagi pada Masyarakat Bugis Makassar dan yang pastinya tidak akan pernah lepas dari Pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional Dan Selamatkan Kebudayaan Bugis Makassar.

17 Mei 2009

sebelum...

Hari ini sebelum kamu mengatakan
kata-kata yang tidak baik,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak
dapat berbicara sama sekali

Sebelum kamu mengeluh tentang rasa
dari makananmu,
Pikirkan tentang seseorang yang tidak
punya apapun untuk dimakan.

Sebelum kamu mengeluh tidak punya apa-apa,
Pikirkan tentang seseorang yang
meminta-minta dijalanan.

Sebelum kamu mengeluh bahwa kamu buruk,
Pikirkan tentang seseorang yang berada
pada tingkat yang terburuk didalam hidupnya.

Sebelum kamu mengeluh tentang suami
atau istri anda,
Pikirkan tentang seseorang yang memohon
kepada Tuhan untuk diberikan teman hidup

sebelum kamu mengeluh tentang hidupmu
hari ini, Pikirkan tentang seseorang yang
meninggal terlalu cepat

Sebelum kamu mengeluh tentang anak-anakmu,
Pikirkan tentang seseorang yang sangat
ingin mempunyai anak tetapi dirinya mandul

Sebelum kamu mengeluh tentang rumahmu
yang kotor karena pembantumu tidak
mengerjakan tugasnya,
Pikirkan tentang orang-orang yang
tinggal dijalanan

Sebelum kamu mengeluh tentang jauhnya
kamu telah menyetir,
Pikirkan tentang seseorang yang menempuh
jarak yang sama dengan berjalan

Dan disaat kamu lelah dan mengeluh
tentang pekerjaanmu,
Pikirkan tentang
pengangguran,orang-orang cacat yang
berharap mereka mempunyai pekerjaan
seperti anda.

Sebelum kamu menunjukkan jari dan
menyalahkan orang lain,
Ingatlah bahwa tidak ada seorangpun yang
tidak berdosa.

Dan ketika kamu sedang bersedih dan
hidupmu dalam kesusahan,
Tersenyum dan berterima kasihlah kepada
Tuhan bahwa kamu masih hidup !

ungkapan perasaan

..kATA sEJuta rAHasia..

jALAn teLah kita LewaTi beRsama

dETik-dETik jAM yANg meNAnti kEBersaMaan

sEMua maTA yANg mENatap tAJam

mELihat kiTA yANg cERia...

kATa yANg diUCapkAN oLEh mEReka

aDA rAHasia di bALik uCAPannya

aPA itu, kiTa pUN tAK tAHu

mAKna baik dAn bURuk aDALah sAtu

dAri sEBuah kEBahagiAan

siAPa YAnG mEReka LihAt dENgan tAJam

sUara caNDa siApa yAng merEKa dENgar

itU seMUa bERAsaL dAri pERsahAbatan kiTa..

TANGIS, PELUH DAN KASIH SAYANGMU

Dirimu menangis dalam kebahagiaanmu

Tak kau hiraukan ari najis yang akan membuatmu bersedih

Tak sepotong roti dan kayupun kau belai dirinya

Sehingga ia merdeka dalam kekekanganmu

Kau rawat ia di atas perahu deritamu

Walaupun tetekmu yang suci ia jadikan sebagai pelampiasan jiwa

Apakah itu semua tak kau hiraukan

Kau bodoh dalam kasih sayangmu

Kau hina dalam keagungan jiwa dan akhlakmu

Kau memang hanyalah itu, dan hanyalah itu

Budak belian dalam genggaman darah dagingmu

Tapi, tak pernah kau sadari bumi merintih karena air matamu

Kau adalah makhluk yang suci, bahkan bintang pun harusnya menyinarimu setiap saat

Burung bernyanyi untuk keagungan dirimu

Bahkan si ari najis itu harusnya berkata

“bunda jangan kau yang mengandungku, karena aku takut membuatmu murka”

Kau memang adalah kesucianku, keberkahan dan kelapanganku

Bunda, ijinkan aku membersihkan telapak kakimu dari mulut kotorku

Ijinkan aku mencium tanganmu dari tabiat setanku

Kumohon bunda… kumohon bunda… kumohon bunda…

Kaulah makhluk yang suci nan agung itu

By: MAKHLUK TUHAN YANG PALING KRITIS

NILAI–NILAI YANG SUDAH HILANG

Mahasiswa adalah tingkatan yang paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia. Kita bisa melihat peran mahasiswa pada tahun 1928 ketika mereka berhasil merumuskan konsep sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal pemersatu di negeri ini. Terus kita juga dapat melihat begitu besar peran mahasiswa ketika peristiwa G/30/S dan peristiwa MALARI (malapetaka 11 April). Dan puncakanya adalah peristiwa 1965 yang berhasil menghasilkan TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) serta peristiwa reformasi 1998 yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto.

Ketika peran dan keberhasilan gerakan mahasiswa kita ingin sinkronkan dengan kondisi mahasiswa PNUP sekarang ini, maka saya ingin katakan kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Kita bisa lihat dari berbagai kejadian di PNUP yang melibatkan lembaga kemahasiswaan. Sikap mereka sudah tidak mencerminkan mahasiswa sebagaimana mahasiswa. Ketika ajang publikasi otot sudah menjadi ”trend” , ketimbang membuka sarana intelektual untuk menyelesaikan suatu masalah . Contoh lain kita bisa liat bagaimana budaya hedonis sudah merajalela di kampus ini. Mulai dari kebiasaan bergosip, kemudian budaya “maccalla–calla“ yang kembali menyeruak, budaya main kartu yang tujannya entah kemana, budaya meneriaki seseorang jika dianggap mengumbar sensualitas, hingga hilangnya kesetiakawanan sosial mahasiswa terhadap saudara–saudaranya yang masih hidup di jalanan dan emperan got. Sungguh sangat memprihatinkan.

Sungguh luculah kejadian ini. Nilai–nilai sebagai seorang mahasiswa sudah hilang. Dan lebih parahnya lagi mereka seakan bangga dengan hal ini. Kemudian muncul pertanyaan solusi apa yang bisa kita tawarkan terhadap fenomena ini. Jika kita merujuk pada akar permasalahannya maka yang pertama kali yang harus dirubah dari mereka yaitu konsep pola pikir. Ingat teman – teman bahwa seseorang akan melakukan sebuah tindakan berangkat dari pemahaman atau pola pikir mereka. Maka disini yang memiliki peranan penting adalah lembaga kemahasiswaan. Mengapa mereka memiliki peranan yang penting, karena di sanalah tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan tentang hakekat mahasiswa itu sendiri. Tidak usah terlalu berharap dari bangku perkuliahan. Harus diketahui bahwa arena perkuliahan di PNUP lebih didominas pemahaman akan hal yang bersifat komersil. Di bangku kuliah mereka hanya diberikan pemahaman bagaimana menjadi orang pintar, kemudian terkenal, banyak uang, kemudian menikah, punya anak dan akhirnya mati. Dan mereka berharap agar tak muncul lagi semangat–semangat perjuangan sehingga kepentingan birokrasi menjadi gampang terealisasi.

Kemudian pola pikir mereka sudah terbangun secara sistematis dan rasional, maka harus di lakukan penyadaran realitas sosial. Ajaklah teman–teman kita ke panti asuhan atau daerah kumuh sehingga mereka benar–benar mengetahui keadaan yang sebenarnya.

Terakhir yang harus kita lakukan yaitu meminimalisir ego lembaga, membasis dengan lembaga lain sehingga revolusi yang sama–sama kita idamkan tercapai. Birokrat akan ciut nyalinya ketika melihat seluruh warga PNUP turun aksi di bawah satu almamater hitam untuk melakukan revolusi . Semoga hal ini bisa terealisasi kawan.

By: MAKHLUK TUHAN YANG PALING KRITIS

LAMBANG HMI

LAMBANG HMI