KOMUNITAS HIJAU HITAM

mari berbagi ilmu pengetahuan, diskusi, kajian, menggagas dan menemukan ide-ide baru.
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai

18 Mei 2009

Penyulut Etika Tak Beretika

PENYULUT ETIKA TAK BERETIKA

Salam mahasiswa…

Sungguh ironis memang ketika kita sering mendendangkan etika tapi kita sendiri bingung akan hali ini. Sangat lucu ketika kita memaksa seseorang untuk beretika tetapi kita sendiri sering melanggar hal ini. Sebenarnya rancu karena ada segelintir kawan-kawan kita yang mengidentikkan etika dengan bukti autentik. Sudah sangat jauh dari etika itu sendiri. Apakah kita sudah berhak melakukan segala tindakan dengan bukti yang bernama “surat izin” itu. Lucu memang lucu. Apa bedanya kita dengan penegak hukum yang tiba-tiba mengobrak-abrik rumah seseorang tanpa mendapatkan izin dari yang bersangkutan? Padahal kita ini adalah mahasiswa yang sering menyuarakan kebenaran. Apalagi kita punya kekuatan dalam menghegemoni wacana?

Sering juga kita melihat bagaimana pertengkaran lembaga hanya dikarenakan hal-hal yang sangat tidak penting. Di mana etika masing-masing lembaga? Padahal kita ini adalah lingkungan intelektual. Kalau kita ingin jujur maka setiap lembaga punya aturan tersendiri, tetapi harus kita ingat bahwa peraturan itu jangan sampai membuat lembaga lain marah, karena kebebasan itu harusalah tak mengganggu hak yang lain apalagi sampai membuat mereka kesal di rumah mereka sendiri. Sudah saatnyalah kita merubah paradigma yang selama ini kita pahami. Sudah saatnyalah kita melepasakan egoisme lembaga kita. Memang saat ini harus diakui bahwa siapa yang dekat dengan penguasa, maka akan memiliki legitimasi yang kuat ketimbang lembaga yang tahunya hanya melawan pemerintah.

Sungguh indah ketika lembaga-lembaga saling mengedepankan akhlak dan etika di atas egoisme mereka. Jangan karena mempunyai legitimasi dari birokrat “yang terhormat” sehingga kita menginjak hak-hak orang lain. Dan parahnya lagi kita beralasan bahwa ini dilakukan demi kebebasan individu. Apakah kebebasan individu/ lembaga harus menginjak-injak nilai persaudaraan kita.Hanya, hal ini akan berjalan mulus kalau lembaga-lembaga senatiasa sadar diri akan hak dan kewajibannya. Jangan hanya mengatakan akan memperbaiki kondisi lembaga kekinian padahal tak ada sedikitpun niat di dalam hatinya untuk melaksanakan ini semua.

Semoga Tuhan memberikan RahmatNya kepada kita semua. Dan semoga nilai-nilai perjuangan kita tak akan pernah redup menghiasi perputaran dunia ini.


Hidup mahasiswa…

Perlunya Kearifan Lokal Pada Pendidikan Di Indonesia

Mungkin kita mengetahui bahwa pada tanggal 2 Mei sering diperingati sebagai Hari Pendidikan Nasional. Tetapi melihat wajah pendidikan indonesia belakangan ini sangat menyedihkan buat kita. Melihat para penerus bangsa ini tidak selayaknya mendapatkan pendidikan sebagaimana yang kita harapkan.

Apakah saudara sering menonton berita ? melihat siswa-siswa yang dijadikan bak ayam aduan disebuah ring dan sang wasitnya adalah guru mereka sendiri. Bukan hanya itu saja video-video mesum yang beredar luas pada masyarakat kita tidak lain mempertontonkan Siswa dan Mahasiswa yang tidak lagi mempunyai norma agama. Melihat kejadian-kejadian yang sangat memilukan buat dunia pendidikan ini, sangat diperlukanya sebuah kurikulum baru yang memasukkan nilai-nilai kearifan lokal budaya indonesia yang sebenarnya lebih kaya dari nilai kearifan lokal budaya luar.

Lantas, 60 tahun setelah kita merdeka adakah capai-capaian budaya membanggakan yang kita raih? Ataukah malah krisis budaya benar-benar telah mengempaskan kita ke keterpurukan ekonomi dan ke ketertinggalan kematangan sosial politik yang amat memilukan?. Selama ini budaya atau kebudayaan terlalu sering dibicarakan dalam tema-tema besar yang serba abstrak. Seperti dalam pidato-pidato kebudayaan yang menuntut refleksi yang dalam dan kecerdasan nalar-logika yang rumit. Tentu saja ruang-ruang perenungan budaya seperti ini penting. Tapi, sesungguhnya untuk saat ini yang tak kalah pentingnya adalah bagaimana kita memandang budaya dengan sederhana. Budaya kita lihat saja dalam kecenderungan sikap, laku, tindak, dan tutur kata kita sehari-hari yang amat kasat mata. Katakanlah, mengikuti istilah pemikir budaya mutakhir, sebagai budaya kehidupan sehari-hari (culture of everyday life).

Bagi Masyarakat Bugis Makassar sendiri nilai kearifan lokal seakan betul-betul dilupakan pada dunia pendidikan di Sulawesi selatan padahal bila melihat secara kasat mata di Sulawesi selatan sendiri Kebudayaan sangatlah Ketal di mata Masyarakatnya. Bila Merulut kebelakang kita masih mendapatkan sebuah mata pelajaran muatan lokal yang dimana mengajarkan kepada siswa bagaimana mengenal kebudayaan mereka, tulisan budaya mereka tapi itu juga hanya terjadi pada pendidikan di kabupaten.

Masih adakah secercah Harapan untun kebudayaan klasik kita ? yang dimana nilai kearifan lokal yang kaya dan beragam jenis, Keindahan dari coretan sebuah Lontara yang menentramkan jiwa, mendengar lantunan indah Sure dan Rinrili yang terlupakan. Semoga itu semua dapat kembali lagi pada Masyarakat Bugis Makassar dan yang pastinya tidak akan pernah lepas dari Pendidikan. Selamat Hari Pendidikan Nasional Dan Selamatkan Kebudayaan Bugis Makassar.

LAMBANG HMI

LAMBANG HMI