KOMUNITAS HIJAU HITAM

mari berbagi ilmu pengetahuan, diskusi, kajian, menggagas dan menemukan ide-ide baru.
eksplore masalah dan carikan solusi.
yakin usaha sampai

23 Februari 2010

Mencintai Wanita Merupakan Akhlaq Para Nabi

Mencintai Wanita Merupakan Akhlaq Para Nabi

Imam Ja’far al Shadiq as berkata, “Sebagian dari akhlaq para Nabi adalah mencintai kaum wanita (hubb al-Nisâ’)” (Al-Wasail 20 : 21)

Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan mencintai kaum wanita sebagaimana hadits lainnya, bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Semakin banyak kecintaan seorang hamba terhadap kaum wanita semakin meningkat imannya dalam kebaikan.” 1]

Kecintaan kita kepada siapa pun, selain kepada Allah, bukanlah suatu dosa apalagi syirik, sepanjang bentuk cinta itu sejalan dan searah dengan cinta kita kepada Allah.

Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku, saya melihat buku karya Ibn al-Qayyim yang bejudul Taman Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Di dalam salah satu halaman pada buku tersebut ada sebuah kisah yang mengharukan tapi juga mengejutkan.

Kira-kira begini ceritanya, Fudlail bin Iyadl, salah seorang tokoh sufi ternama, sedang menunggui putrinya yang sedang sakit parah. Sang sufi melihat sedemikian berat penderitaan putrinya itu menjadi sedih hingga menitikkan air matanya. Putrinya begitu melihat ayahnya menangis segera menegur ayahnya, ”Mengapa ayah menangis?”
Fudhail menjawab, ”Tentu saja karena aku mencintaimu”
Putrinya sekali lagi menegur ayahnya,”Bagaimana ayah bisa mencintai sesuatu selain Allah?”

Fudhail terhenyak dan sadar, ia merasa bersalah dan berdosa karena ia telah memberikan cintanya kepada seeorang disamping cintanya kepada Tuhan.
Banyak kisah-kisah sufi yang menarik yang senada dengan cerita di atas, tetapi apakah bisa dibenarkan pola berpikir seperti itu?

Tentu saja penyataan-pernyataan seperti itu menjadi naif dan terkesan tidak cerdas, karena kita memahami bahwa selama bentuk cinta kita itu masih dalam ruang fitrah manusia dan searah dengan kecintaan kita kepada Tuhan maka hal yang demikian justru menjadi bagian dari ibadah dan kebajikan. (Hal ini sudah saya paparkan pada artikel2 sebelum ini)

Laki-laki dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan dari Yang Satu, Allah SwT, sehingga pada keduanya ada keselarasan untuk mencintai Tuhan secara sama.

AL NISA’ BUKAN IMRA’AH
Jika kita perhatikan dua teks hadits Imam Ja’far al-Shadiq as tersebut di atas, beliau as tidak menggunakan kata imra’ah, bentuk jamak dari mar’ah yang artinya : perempuan, tetapi beliau menggunakan kata al-Nisa’, sebuah kata yang tidak memiliki bentuk tunggal, yang artinya wanita.

Syekh al-Jerahi al-Halveti mengatakan bahwa isyarat ini menunjukkan bentuk kata al-Nisa’ bukanlah wanita tanpa nama yang para Nabi dan Rasulullah saww cintai. 2]

Dengan kata lain mereka (para Nabi) mencintai wanita-wanita tertentu. Yaitu wanita-wanita yang memang layak mereka cintai dengan kapasitas spiritual yang mumpuni. Contoh yang paling populer adalah kecintaan Nabi saww kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau. Sampai akhir hayat beliau saww beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah as sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saww kepada Fathimah as yang sangat besar.
Sejarah dan riwayat-riwayat hadits tentang kecintaan beliau saww kepada puterinya yang mulia ini menjadi topik khusus dari banyak pembahasan di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.

Rasulullah menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saww, Fathimah, puteri Nabi saww, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana sabda Rasulullah saww, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun” 3]

Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Tsa’labi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saww bersabda kepada puterinya Fathimah as, ”Cukuplah bagimu bahwa Allah menjadikanmu sebagai salah seorang penghulu wanita (di Surga) yaitu : Maryam binti ‘Imran, Asiyah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad.” 4]

Juga sabda beliau saww, ”Seutama-utama wanita di Surga ada empat orang : Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun.” 5]

Rasulullah saww bersabda, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilih 4 wanita (utama) yaitu : Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah.” 6]

Jadi, para Nabi, termasuk Nabi saww, mencintai kaum wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik.

TIGA HAL YANG DICINTAI NABI SAW
Hal seperti ini pernah disabdakan oleh Nabi saww, ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 7]
Segala sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Habb adalah benih. Makna harfiah habb adalah benih yang berasal dari rerumputan. Ada banyak jenis tumbuh-tumbuhan, dan maknanya berkaitan dengan kandungan gizi yang dimilikinya.

Makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan saling bergantung. Makhluk yang paling mulia, manusia, bergantung pada makhluk-makhluk yang lebih rendah karena manusia berasal dari debu.

Namun demikian, manusia mencintai yang lebih tinggi karena kelembutannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mencintai makna-makna yang lebih subtil. Nabi Muhammad saw. menyukai shalat, wangi-wangian, dan wanita. Ia mencintai yang paling lembut, yakni shalat, wewangian dan wanita.

Begitu kebutuhan-kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi, ia akan mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi dalam makna. Jika beruntung, maka ia akan meraih kepuasan fisik, yang kemudian membuat dirinya mempertanyakan makna. 8]

Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Wanita diciptakan untuk dicintai pria, karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya dimana dia berada dalam citra-Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai isterinya, karena ia mencintai isterinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola citra Ilahi. Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita, sehingga memungkinkan mereka bersatu dalam cinta dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar daripada penyatuan di dalam hubungan seksual. (di dalam sebuah pernikahan). 9]

Ketika pria mencintai wanita, dia mencari kesatuan, atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan yang dalam konfigurasi elemental yang lebih besar daripada perkawinan.
WANITA DICIPTAKAN DARI NAFS WAHIDAH
Allah SwT berfirman, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (QS 4 : 1)
 Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan akal (al-‘aql), yang merupakan ciptaan(Nya) yang paling awal” 10]

 Dengan pemahaman ini, saya meyakini bahwa baik Adam as maupun Hawa as diciptakan dari nafs wahidah atau Nur Muhammad. Dari pemahaman ini pula kita mendapatkan hikmah bahwa asal kejadian Adam yang mewakili pria dan Hawa yang mewakili wanita adalah satu dan sama.

 Dari prinsip kesamaan atau keserupaan inilah kaum pria dan kaum wanita memiliki saling ketertarikkan satu sama lain. Pria bersesuaian dengan wanita melalui keserupaan. Maka pria menjadi hilang dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita.

 Cinta dapat meresap ke seluruh bagian diri pria sedemikian rupa sehingga dia mencurahkan seluruh dirinya untuk wanita. Itulah sebabnya pria menjadi hilang dalam yang menyerupai dirinya dengan kehilangan yang sempurna, bertentangan dengan cintanya pada sesuatu yang tidak merupakan keserupaannya.

Cinta tidak dapat menyerap keseluruhan orang yang mencintai kecuali yang dicintainya adalah Tuhan atau salah satu yang serupa dengannya, seorang wanita atau seorang pria. Tidak ada cinta yang dapat menyerap seorang manusia secara menyeluruh, karena sebab esensi seorang manusia tidak bersesuaian dengan sesuatu pun kecuali seseorang yang menyerupai bentuknya sendiri. 11]
 Rasulullah mencintai wanita-wanita melalui alasan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka (Jamaliyyah). Barangsiapa yang mencintai wanita-wanita dengan cara ini, maka ia mencintai dengan kecintaan yang bersifat Ilahiah.

 Sebaliknya pria yang cintanya dibatasi pada gairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat Ilahi itu. Bagi orang ini, wanita dipandangnya sebatas bentuk-bentuk fisiknya belaka tanpa ruh. Ini adalah kehampaan karena orang seperti ini mendekati isterinya atau wanita-wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut tanpa menyadari Sesuatu Yang kesenangan-Nya benar-benar ada.  Dengan demikian, pria itu benar-benar tidak mengenal dirinya.

 Mereka benar dalam pengandaian bahwa aku sedang jatuh cinta,
Hanya mereka tidak mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta

Pria seperti ini benar-benar jatuh cinta pada kelezatannya bukan kepada Siapa Yang menyebabkan ia dapat menikmati kesenangan itu dengan wanita, dan merupakan Sang Penikmat. Jika ia jatuh cinta bukan pada kelezatannya tetapi pada Sumber Segala Kenikmatan niscaya ia akan menjadi sempurna. 12]

 Nabi Saw adalah manusia yang paling sempurna dan sekaligus pria yang juga paling sempurna. Kecintaan Nabi Saw kepada kaum wanita menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terkait dengan kecintaan manusia lainnya, bukan semata-mata kecintaannya kepada Tuhan. Secara lebih khusus, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan pria terletak pada kaum wanita da, dengan demikian kesempurnaan wanita pun terletak pada kaum pria. 13]
 “mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2] ayat 187)
Wanitalah yang menutupi aurat atau aib laki-laki dan laki-laki juga yang menutupi aurat atau aib wanita.

SIAPAKAH YANG LEBIH ENGKAU CINTAI?
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu hari Rasulullah menemui Ali dan Fathimah, dimana keduanya (Ali dan Fathimah) sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah mereka serentak terdiam. Melihat hal ini Nabi saww pun bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam?”

 Maka Fathimah cepat-cepat berkata, ”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia (Ali) telah berkata begini, ”Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu”, maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, ”Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu!”.

 Mendengar hal ini Rasulullah saww tersenyum lantas berkata, ”Wahai putriku, engkaulah buah hatiku yang paling aku cintai, sedangkan Ali lebih mulia bagiku daripadamu.” 14]

Mungkin kita bisa menafsirkan hadits di atas dengan metoda Ibn ‘Arabi, dimana ketika Rasulullah saww melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah, beliau melihat manifestasi Jamaliyyah (Keindahan Spiritual) Tuhan yang begitu dominan, sementara pada Imam Ali as, beliau melihat manifestasi Jalaliyyah (Keagungan Spiritual) Tuhan yang lebih mendominasi.

Pada hakikatnya, pada kaum wanita, manifestasi (tajaliyyat) Keindahan Tuhan lebih menonjol, sementara kaum pria lebih banyak menyerap manifestasi Keagungan Tuhan.
 Orang yang mengetahui kedudukkan kaum wanita dan misteri mereka tidak akan menjauhi mereka. Sebaliknya, salah satu kesempurnaan kaum ‘urafa adalah kecintaan kepada mereka, sebab ini merupakan warisan Nabi saww dan cinta Ilahiah. 15]
Ibn Al-‘Arabi sendiri berkeyakinan bahwa di dalam diri wanitalah Tuhan lebih sempurna memanifestasikan diri-Nya. 16] Ini bisa dipahami karena sifat Rahman dan Rahim Tuhan lebih menonjol ketimbang sifat-sifat-Nya yang keras, sebagaimana hadis Qudsi yang sangat masyhur : “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 17]
 Ibn ‘Arabi qs berkata :
“Kerinduan para ahli makrifat terhadap kaum wanita
adalah kerinduan dari keseluruhan terhadap bagian dirinya,
seperti kesunyian tempat tinggal yang mendambakan
penghuni yang memberi mereka kehidupan.
Lagi pula, Tuhan mengisi tempat dalam diri kaum pria
dari mana wanita diambil dengan kecenderungan terhadapnya.
Kerinduannya terhadap wanita itu adalah kerinduan
dan kecenderungan dari yang besar terhadap yang kecil”
(Futuhat al-Makkiyyah 2 : 190.9)

Letak Kecantikan Wanita

Letak Kecantikan Wanita

Untuk membentuk bibir yang menawan, ucapkanlah kata-kata kebaikan. Untuk mendapatkan mata yang indah, carilah kebaikan pada setiap orang yang anda jumpai. Untuk mendapatkan bentuk badan yang langsing, bagikanlah makanan dengan mereka yang kelaparan. Untuk mendapatkan rambut yang indah, mintalah seorang anak kecil untuk menyisirnya dengan jemarinya setiap hari. Untuk mendapatkan sikap tubuh yang indah, berjalanlah dengan segala ilmu pengetahuan, dan anda tidak akan pernah berjalan sendirian.
Manusia, jauh melebihi segala ciptaan lain. Perlu senantiasa berubah, diperbaharui, dibentuk kembali, dan diampuni. Jadi, jangan pernah kecilkan seseorang dari hati anda. Apabila anda sudah melakukan semuanya itu, ingatlah senantiasa. Jika suatu ketika anda memerlukan pertolongan, akan senantiasa ada tangan terulur. Dan dengan bertambahnya usia anda, anda akan semakin mensyukuri telah diberi dua tangan, satu untuk menolong diri anda sendiri dan satu lagi untuk menolong orang lain.
Kecantikan wanita bukan terletak pada pakaian yang dikenakan, bukan pada bentuk tubuh, atau cara dia menyisir rambutnya. Kecantikan wanita terdapat pada mata, cara dia memandang dunia. Karena di matanya terletak gerbang menuju ke setiap hati manusia, di mana cinta dapat berkembang. Kecantikan wanita bukan pada kehalusan wajah. Tetapi pada kecantikan yang murni, terpancar pada jiwanya, yang dengan penuh kasih memberikan perhatian dan cinta. Dan kecantikan itu akan tumbuh sepanjang waktu. Kecantikan wanita ada pada sikap lembutnya, yang terpancar dari keihlasan hati dalam merawat dan menjaga keluarga.
“Wanita yang cantik adalah wanita yang bisa menjaga harga dirinya.”

Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah

Perjuangan Perempuan di Masa Rasulullah:
Model Panutan Gerakan Perempuan dalam Islam

Ketika perempuan di dunia Islam menggeliat menyuarakan haknya, banyak orang merasa tersentak, terutama mereka yang selama ini hidup nyaman dengan sistem patriaki. Yang muncul kemudian adalah resistensi terhadap segala gerakan yang ditengarai menyuarakan hak-hak perempuan. Dari yang menganggap gerakan itu sebagai adopsi barat, sampai yang menganggap tidak ada dasarnya dalam Islam.

Memang, jika kita merunut sejarah Islam sejak zaman klasik sampai sekarang, gerakan perempuan selalu berhadapan dengan arus besar yang tidak menghendaki perubahan akibat gerakan itu. Namun, tidak berarti bahwa gerakan perempuan dalam Islam tidak ada dan tidak diakui agama. Teks-teks suci keagamaan menunjukkan bahwa gerakan perempuan, terutama di awal Islam, memiliki bobot dan pengaruh terhadap rumusan ajaran-ajaran formal keagamaan pada masa Nabi Muhammad Saw.

Tulisan ini akan mencoba sedikit menguak gerakan perempuan yang terjadi pada masa Rasulullah Saw, untuk membuktikan gerakan perempuan dalam Islam bukanlah sesuatu yang baru, apalagi dianggap tidak berdasar. Tulisan ini menampilkan Rasulullah karena dua hal. Pertama, Rasulullah diakui sebagai panutan seluruh umat Islam, baik dalam ucapan, perbuatan, penetapan, sifat maupun sistem nilai yang dibentuknya. Selain itu, generasi sahabat yang hidup semasa Rasulullah diakui secara aklamasi sebagai generasi Islam terbaik. Kedua, dinamika gerakan perempuan yang terjadi pada masa sahabat tidak terjadi pada masa-masa sesudahnya, bahkan ketika peradaban Islam sedang berada di puncak peradaban dunia, di masa Abbasiyah. Barulah pada akhir abad kesembilan belas, ketika Islam menyadari ketertinggalannya, gerakan perempuan Islam akhirnya muncul. Menyusul kesadaran perlunya kebangkitan Islam pasca kolonialisme.

Al-Qur'an dan Perjuangan Perempuan
Sebagaimana disinggung sebelumnya, gerakan perempuan memiliki pengaruh langsung terhadap turunnya ajaran-ajaran agama, khususnya yang menyangkut hak-hak perempuan. Al-Qur'an menyatakan dengan sangat jelas pengaruh tersebut. Dalam Al-qur'an terdapat beberapa ayat yang mengakomodir aspirasi perempuan yang turun segera setelah ada suara dari perempuan. Sebagai contoh, ayat 35 Surat Al-Ahzab yang secara eksplisit mengakui kesetaraan laki-laki dan perempuan di mata Tuhan, turun setelah Ummu Salamah r.a mempertanyakan pada Nabi mengapa kaum perempuan dalam Al-qur'an tidak diungkap sebagaimana kaum laki-laki. Tidak lama kemudian, ketika Nabi berkhotbah diatas mimbar, Nabi mengatakan bahwa Allah SWT telah menurunkan ayat "Orang-orang Islam laki-laki dan orang-orang Islam perempuan, orang-orang beriman laki-laki dan orang-orang beriman perempuan, dan seterusnya. Kepada mereka Allah menyediakan ampunan dan pahala yang besar." Demikian disebutkan dalam kitab-kitab tafsir dari hadist riwayat Imam Nasa'i dan Ibnu Jarir Abdul Wahid bin Ziyad.
Al-Qur'an juga merekam peristiwa pertikaian pasangan suami-istri Khaulha binti Malik bin Tsa'labah dengan suaminya Aus bin Shamit. Khaulah mengadu kepada Nabi bahwa suaminya telah men-zihar-nya (menyerupakan fisik istri dengan ibunya sehingga si istri menjadi haram digauli oleh suaminya). Setelah zihar itu, sang suami terus memaksanya untuk melakukan hubungan seksual. Namun Khaulah selalu bersikeras menolak dengan berbagai cara, sampai suaminya menjauh dari Khaulah. Mendengar pengakuan itu, Nabi terdiam. Beberapa saat kemudian, beliau berkata kepada Khaulah yang menolak disetubuhi, sekaligus memberikan penjelasan mengenai hukum suaminya yang men-zihar istrinya.
Pembelaan Al-Qur'an kepada perempuan juga spontan turun ketika Abdullah bin Ubaay bin Salul, gembong kaum munafik, mencoba melacurkan Mu'adzah yang hamil. Dan saat melahirkan , anak yang dilahirkan akan ditebus dengan harga mahal oleh Ubbay. Mu'adzah menolak hal tersebut. Nabi memberikan sebuah pembelaan yang sangat jelas terhadap perempuan seperti Mu'adzah. Bagi perempuan yang dipaksa untuk dilacurkan, Allah secara tegas menyatakan bahwa mereka adalah Maha Pengampun dan Pengasih.
Tiga kasus di atas dengan jelas menunjukkan keberanian perempuan menyuarakan haknya telah ada di zaman Nabi. Ummu Salamah memperjuangkan hak istri, sementara Mu'adzah memperjuangkan hak reproduksinya dari tangan-tangan tidak bertanggung jawab. Sekalipun dalam tiga kasus ini mereka kebetulan berbicara sendirian, sesungguhnya mereka menyuarakan suara perempuan secara umum. Yang perlu kita garis bawahi di sini, keberanian itu muncul kerena iklim sosial yang dibentuk Nabi Saw sangat kondusif terhadap problema perempuan, termasuk hal paling pribadi sekalipun.
Kurang lengkap rasanya mengurai perjuangan (baca:gerakan) perempuan Islam masa awal tanpa menyinggung dua peristiwa besar yang menunjukkan keteguhan dan kemandirian kaum perempuan dalam menentukan sikap hidupnya. Peristiwa itu adalah Bai'at an-Nisa' (Bai'at keIslaman kaum perempuan) dan Hijrah ke Madinah. Dalam Bai'at an-Nisa, Allah memerintahkan Nabi untuk membai'at dan memintakan ampunan kepada perempuan yang secara sadar datang bersama-sama untuk berbai'at. Untuk menguji kesungguhan kaum perempuan ini, Rasulullah-sebagaimana diriwayatkan dalam banyak hadist sahih berdasarkan kesaksian Umaimah binti Ruqaiqah, salah seorang perempuan Anshar peserta bai'at-mengajukan banyak pertanyaan kepada sekelompok yang hendak berbai'at ini. Peristiwa bai'at ini terekam dengan gamblang dalam surat al-Mumtahanah ayat 12.
Peristiwa lebih dramatis terjadi juga pada beberapa perempuan yang secara sadar meninggalkan segala kemewahan hidup dan keluarganya yang masih memusuhi Islam untuk ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi. Menghadapi perempuan teguh seperti ini, lagi-lagi Allah memerintahkan orang-orang mukmin untuk menguji keteguhan imannya. Jika benar-benar bulat tekadnya, maka mereka harus dilindungi dari ancaman dan serangan yang mungkin dilakukan keluarganya. Ummu Habibah, putri Abu Sufyan pembesar Kuffar Makkah yang kelak menjadi istri Nabi, merupakan satu di antara para perempuan yang teguh ini. Perjuangan para perempuan yang hijrah meninggalkan keluarganya ini diabadikan dalam surat Al-Mumtahanah ayat 10-12.

Ilustrasi di atas menunjukkan, sejak awal perempuan Islam sudah memiliki kesadaran kolektif untuk menyatakan sikap hidupnya, walapun harus berhadapan dengan risiko besar. Meskipun demikian, kesadaran kolektif itu belum terjalin dalam sebuah gerakan perempuan yang sistematis seperti saat ini.

Al-Hadis dan Perjuangan Perempuan Meneropong apa yang terjadi dalam gerakan perempuan Islam dalam sejarah, sangat mustahil jika tidak membuka hadis Nabi. Hadis Nabi merupakan bukti otentik atas dinamika yang terjadi di masa itu, termasuk dinamika gerakan perempuan Islam.
Kalau kita melihat hadis Nabi yang berbicara mengenai perempuan, kita temukan bahwa sebagian besar hadis muncul karena ada pertanyaan atau kasus yang dialami perempuan. Seperti masalah relasi suami istri-baik relasi seksual maupun relasi keseharian, dan bagaimana peran publik dan sosial perempuan, merupakan beberapa bukti betapa inisiatif dan aspirasi perempuan menjadi sebab utama munculnya hadis-hadis tersebut.

Sepintas lalu, proses munculnya ajaran tentang perempuan yang demikian tampaknya meneguhkan anggapan bahwa agama kurang menaruh perhatian pada perempuan. Namun, jika dilihat dari perspektif yang lain, hal justru itu merupakan fakta betapa agama tidak semena-mena dalam memberikan peraturan menyangkut perempuan. Nabi sebagai pembawa risalah sangat menyadari bahwa beliau adalah seorang laki-laki yang tidak serta merta memahami seluk beluk perempuan. Karenanya, beliau perlu mendengar suara perempuan sebelum memberikan satu keputusan agama. Sikap ini sangat kontras jika dibandingkan dengan kecenderungan sebagian ahli agama yang merasa paling tahu dan karenanya merasa paling berhak membuat aturan tentang perempuan. Padahal, kalau Rasulullah berkenan, dengan mengatas namakan wahyu Tuhan, semua peraturan bisa dibuat. Namun Rasulullah tidak melakukan hal itu. Rasulullah tidak memonopoli suara perempuan dengan menjadikan agama sebagai senjata. Sebaliknya, agama ditempatkan Rasulullah sebagai ruang dialog yang bisa mewadahi aspirasi pemeluknya, tidak terkecuali kaum perempuan.

Harus diakui, langkah yang ditempuh Nabi ini merupakan apresiasi besar terhadap keberadaan kaum perempuan. Ini merupakan suatu hal yang luar biasa, mengingat tradisi mengubur anak perempuan hidup-hidup dan kebiasaan mewarisi dan menjadikan perempuan bak barang tinggalan, menguasai sistem sosial yang berlaku saat itu. Sikap Rasulullah yang akomodatif ini membuat sahabiyat (sahabat perempuan Nabi) merasa bebas menyuarakan aspirasinya. Pada gilirannya, situasi ini menyuburkan gerakan perempuan Islam di masa Nabi Saw.

Sejarah mencatat bahwa majlis ta'lim untuk perempuan pada masa Nabi telah ada. Dan seperti disinggung di atas, alasan terbentuknya majlis ta'lim ini adalah kebutuhan sahabiyat akan ilmu agama sebagaimana sahabat laki-laki. Mereka meminta Nabi untuk menyediakan waktu khusus untuk perempuan karena merasa perhatian Nabi kepada laki-laki lebih besar daripada kepada mereka. Nabi langsung menyetujui keinginan itu.

Persamaan keinginan untuk belajar ini pada gilirannya membuat sahabiyat memiliki semacam komunitas bersama. Tercatatlah nama Asma' binti Yazid, seorang sahabiyat cerdas yang diangkat menjadi juru bicara para sahabiyat. Suatu kali di hadapan para sahabat laki-laki, Rasulullah memuji kemampuan Asma' ini. Lagi-lagi tema yang diangkat dan mendatangkan pujian nabi ini mengenai persamaan hak perempuan dan laki-laki.

Pertanyaan Asma' di atas adalah persoalan kolektif yang dikemukakan secara kolektif pula. Sahabiyat biasa mengajukan pertanyaan dan mengadukan persoalan mereka di masjid atau dalam suatu forum terbuka. Ini merupakan salah satu cara sahabiyat menyampaikan aspirasi perempuan. Cara lain adalah langsung bertanya kepada Nabi secara pribadi, sesekali juga melalui istri Nabi. Pertanyaan langsung secara pribadi pada Nabi umumnya dilakukan sahabiyat jika persoalannya bersifat spesifik, seperti istihadhah atau menyangkut relasi suami istri.

Menyampaikan aspirasi, baik yang bersifat memperjuangkan hak perempuan atau mencari tahu ajaran agama menjadi tradisi yang tumbuh subur di kalangan sahabiyat, terutama di kalangan Anshar. Tidak heran jika Ummul Mukminin Aisyiah r.a memuji sikap perempuan Anshar yang tidak dihalangi rasa malu dalam tafaqquh fiddin. Imam Bukhari mengabadikan pujian Aisyiah menjadi judul bab dalam salah satu bahasan tentang ilmu dalam kitab Sahih Bukhari-nya. Sementara Imam Muslim menyitir pernyataan itu dalam suatu hadis mauquf dalam Sahih Muslim-nya.

Catatan Penutup
Apa yang dipaparkan ini sesungguhnya belum merekam seluruh peristiwa yang bisa kita sebut sebagai gerakan perempuan Islam di masa awal. Namun demikian, dari berbagai peristiwa dan catatan sejarah yang terekam dalam al-qur'an dan Al-hadis, kita dapat melihat kecenderungan umum yang sangat menarik. Baik dari sudut perempuan selaku komunitas yang memperjuangkan haknya, maupun dari sudut Nabi selaku pemegang otoritas keagamaan dan kemasyarakatan. Dari sudut perempuan, tampak jelas bahwa hak-hak perempuan itu ada, baik secara kolektif maupun pribadi. Tanpa itu, sangat mungkin aspirasi perempuan tak terwadahi karena pemegang otoritas kebetulan seorang laki-laki. Dari sudut Nabi, beliau telah memberikan contoh yang sangat ideal mengenai bagaimana seharusnya seorang laki-laki pemegang otoritas mewadahi aspirasi perempuan. Dalam kedudukannya sebagai Nabi yang punya hak penuh mengatur ummatnya, Muhammad Saw tidak semena-mena membuat aturan mengenai perempuan dengan mengatasnamakan agama tanpa memperhatikan sungguh-sungguh aspirasi kaum perempuan. Konfigurasi dari dua sisi yang saling mengisi itupun kemudian membuka kemungkinan perempuan untuk menyuarakan aspirasi kaumnya. Jika sahabat yang merupakan contoh terbaik generasi Islam saja tidak ragu-ragu memperjuangkan hak dan aspirasi mereka, layakkah kita yang hidup di era modern ini tidak berani menyuarakan hak dan aspirasi kita dalam sebuah wadah besar yang bernama gerakan perempuan?

Perempuan Penghuni Surga

Dalam satu riwayat Imam Shadiq as berkata: Allah swt telah mewahyukan kepada Nabi Daud as untuk pergi menyampaikan kabar gembira kepada Khalawah binti Aus bahwa ia merupakan calon penghuni surga. Dan beritahukan kepadanya bahwa ia di surga berada di sampingmu.
Kemudian Nabi Daud as pergi menuju rumah perempuan tersebut. Sewaktu tiba di rumahnya lantas ia mengetuk pintu rumah. Mendengar ketukan pintu lalu Khalawah bangkit dan membuka pintu. Ketika ia melihat Nabi Daud as, lantas ia berkata: “Apakah telah turun wahyu tentangku sehingga tuan mendatangiku?”. Nabi Daud as menjawab:“Ya, benar”. Perempuan bertanya kembali: “Apakah itu?”.Nabi Daud as menjawab: “Wahyu tersebut berkaitan dengan keutamaanmu”.
Perempuan berkata: “Itu bukan diriku, mungkin perempuan lain yang namanya sama denganku, karena saya tidak memiliki kelayakan untuk itu”. Nabi Daud as bersabda: “Perempuan itu adalah engkau”. Perempuan berkata: “Sumpah demi Tuhan, saya tidak merasa melakukan perbuatan yang membuatku mencapai derajat tinggi seperti ini”. Nabi Daud as kembali bersabda: “Coba anda ceritakan sekilas tentang kehidupanmu padaku!”.
Perempuan berkata: “Saya selalu bersabar atas segala penyakit, kerugian, dan kesulitan yang telah menimpaku. Bahkan saya tidak pernah memohon kepada Tuhan untuk menghilangkan segala ujian dan cobaan dariku, melainkan Dia sendiri menghendaki-Nya. Saya juga tidak mengharapkan pahala dan balasan dari-Nya atas segala kesabaranku ini. Akan tetapi saya selalu mensyukuri-Nya”. Nabi Daud as bersabda: “Karena perbuatanmu inilah engkau telah mencapat derajat tinggi di sisi-Nya”.

LAMBANG HMI

LAMBANG HMI