Mencintai Wanita Merupakan Akhlaq Para Nabi
Imam Ja’far al Shadiq as berkata, “Sebagian dari akhlaq para Nabi adalah mencintai kaum wanita (hubb al-Nisâ’)” (Al-Wasail 20 : 21)
Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan mencintai kaum wanita sebagaimana hadits lainnya, bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Semakin banyak kecintaan seorang hamba terhadap kaum wanita semakin meningkat imannya dalam kebaikan.” 1]
Kecintaan kita kepada siapa pun, selain kepada Allah, bukanlah suatu dosa apalagi syirik, sepanjang bentuk cinta itu sejalan dan searah dengan cinta kita kepada Allah.
Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku, saya melihat buku karya Ibn al-Qayyim yang bejudul Taman Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Di dalam salah satu halaman pada buku tersebut ada sebuah kisah yang mengharukan tapi juga mengejutkan.
Kira-kira begini ceritanya, Fudlail bin Iyadl, salah seorang tokoh sufi ternama, sedang menunggui putrinya yang sedang sakit parah. Sang sufi melihat sedemikian berat penderitaan putrinya itu menjadi sedih hingga menitikkan air matanya. Putrinya begitu melihat ayahnya menangis segera menegur ayahnya, ”Mengapa ayah menangis?”
Fudhail menjawab, ”Tentu saja karena aku mencintaimu”
Putrinya sekali lagi menegur ayahnya,”Bagaimana ayah bisa mencintai sesuatu selain Allah?”
Fudhail terhenyak dan sadar, ia merasa bersalah dan berdosa karena ia telah memberikan cintanya kepada seeorang disamping cintanya kepada Tuhan.
Banyak kisah-kisah sufi yang menarik yang senada dengan cerita di atas, tetapi apakah bisa dibenarkan pola berpikir seperti itu?
Tentu saja penyataan-pernyataan seperti itu menjadi naif dan terkesan tidak cerdas, karena kita memahami bahwa selama bentuk cinta kita itu masih dalam ruang fitrah manusia dan searah dengan kecintaan kita kepada Tuhan maka hal yang demikian justru menjadi bagian dari ibadah dan kebajikan. (Hal ini sudah saya paparkan pada artikel2 sebelum ini)
Laki-laki dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan dari Yang Satu, Allah SwT, sehingga pada keduanya ada keselarasan untuk mencintai Tuhan secara sama.
AL NISA’ BUKAN IMRA’AH
Jika kita perhatikan dua teks hadits Imam Ja’far al-Shadiq as tersebut di atas, beliau as tidak menggunakan kata imra’ah, bentuk jamak dari mar’ah yang artinya : perempuan, tetapi beliau menggunakan kata al-Nisa’, sebuah kata yang tidak memiliki bentuk tunggal, yang artinya wanita.
Syekh al-Jerahi al-Halveti mengatakan bahwa isyarat ini menunjukkan bentuk kata al-Nisa’ bukanlah wanita tanpa nama yang para Nabi dan Rasulullah saww cintai. 2]
Dengan kata lain mereka (para Nabi) mencintai wanita-wanita tertentu. Yaitu wanita-wanita yang memang layak mereka cintai dengan kapasitas spiritual yang mumpuni. Contoh yang paling populer adalah kecintaan Nabi saww kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau. Sampai akhir hayat beliau saww beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah as sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saww kepada Fathimah as yang sangat besar.
Sejarah dan riwayat-riwayat hadits tentang kecintaan beliau saww kepada puterinya yang mulia ini menjadi topik khusus dari banyak pembahasan di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.
Rasulullah menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saww, Fathimah, puteri Nabi saww, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana sabda Rasulullah saww, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun” 3]
Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Tsa’labi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saww bersabda kepada puterinya Fathimah as, ”Cukuplah bagimu bahwa Allah menjadikanmu sebagai salah seorang penghulu wanita (di Surga) yaitu : Maryam binti ‘Imran, Asiyah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad.” 4]
Juga sabda beliau saww, ”Seutama-utama wanita di Surga ada empat orang : Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun.” 5]
Rasulullah saww bersabda, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilih 4 wanita (utama) yaitu : Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah.” 6]
Jadi, para Nabi, termasuk Nabi saww, mencintai kaum wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik.
TIGA HAL YANG DICINTAI NABI SAW
Hal seperti ini pernah disabdakan oleh Nabi saww, ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 7]
Segala sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Habb adalah benih. Makna harfiah habb adalah benih yang berasal dari rerumputan. Ada banyak jenis tumbuh-tumbuhan, dan maknanya berkaitan dengan kandungan gizi yang dimilikinya.
Makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan saling bergantung. Makhluk yang paling mulia, manusia, bergantung pada makhluk-makhluk yang lebih rendah karena manusia berasal dari debu.
Namun demikian, manusia mencintai yang lebih tinggi karena kelembutannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mencintai makna-makna yang lebih subtil. Nabi Muhammad saw. menyukai shalat, wangi-wangian, dan wanita. Ia mencintai yang paling lembut, yakni shalat, wewangian dan wanita.
Begitu kebutuhan-kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi, ia akan mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi dalam makna. Jika beruntung, maka ia akan meraih kepuasan fisik, yang kemudian membuat dirinya mempertanyakan makna. 8]
Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Wanita diciptakan untuk dicintai pria, karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya dimana dia berada dalam citra-Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai isterinya, karena ia mencintai isterinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola citra Ilahi. Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita, sehingga memungkinkan mereka bersatu dalam cinta dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar daripada penyatuan di dalam hubungan seksual. (di dalam sebuah pernikahan). 9]
Ketika pria mencintai wanita, dia mencari kesatuan, atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan yang dalam konfigurasi elemental yang lebih besar daripada perkawinan.
WANITA DICIPTAKAN DARI NAFS WAHIDAH
Allah SwT berfirman, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (QS 4 : 1)
Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan akal (al-‘aql), yang merupakan ciptaan(Nya) yang paling awal” 10]
Dengan pemahaman ini, saya meyakini bahwa baik Adam as maupun Hawa as diciptakan dari nafs wahidah atau Nur Muhammad. Dari pemahaman ini pula kita mendapatkan hikmah bahwa asal kejadian Adam yang mewakili pria dan Hawa yang mewakili wanita adalah satu dan sama.
Dari prinsip kesamaan atau keserupaan inilah kaum pria dan kaum wanita memiliki saling ketertarikkan satu sama lain. Pria bersesuaian dengan wanita melalui keserupaan. Maka pria menjadi hilang dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita.
Cinta dapat meresap ke seluruh bagian diri pria sedemikian rupa sehingga dia mencurahkan seluruh dirinya untuk wanita. Itulah sebabnya pria menjadi hilang dalam yang menyerupai dirinya dengan kehilangan yang sempurna, bertentangan dengan cintanya pada sesuatu yang tidak merupakan keserupaannya.
Cinta tidak dapat menyerap keseluruhan orang yang mencintai kecuali yang dicintainya adalah Tuhan atau salah satu yang serupa dengannya, seorang wanita atau seorang pria. Tidak ada cinta yang dapat menyerap seorang manusia secara menyeluruh, karena sebab esensi seorang manusia tidak bersesuaian dengan sesuatu pun kecuali seseorang yang menyerupai bentuknya sendiri. 11]
Rasulullah mencintai wanita-wanita melalui alasan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka (Jamaliyyah). Barangsiapa yang mencintai wanita-wanita dengan cara ini, maka ia mencintai dengan kecintaan yang bersifat Ilahiah.
Sebaliknya pria yang cintanya dibatasi pada gairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat Ilahi itu. Bagi orang ini, wanita dipandangnya sebatas bentuk-bentuk fisiknya belaka tanpa ruh. Ini adalah kehampaan karena orang seperti ini mendekati isterinya atau wanita-wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut tanpa menyadari Sesuatu Yang kesenangan-Nya benar-benar ada. Dengan demikian, pria itu benar-benar tidak mengenal dirinya.
Mereka benar dalam pengandaian bahwa aku sedang jatuh cinta,
Hanya mereka tidak mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta
Pria seperti ini benar-benar jatuh cinta pada kelezatannya bukan kepada Siapa Yang menyebabkan ia dapat menikmati kesenangan itu dengan wanita, dan merupakan Sang Penikmat. Jika ia jatuh cinta bukan pada kelezatannya tetapi pada Sumber Segala Kenikmatan niscaya ia akan menjadi sempurna. 12]
Nabi Saw adalah manusia yang paling sempurna dan sekaligus pria yang juga paling sempurna. Kecintaan Nabi Saw kepada kaum wanita menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terkait dengan kecintaan manusia lainnya, bukan semata-mata kecintaannya kepada Tuhan. Secara lebih khusus, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan pria terletak pada kaum wanita da, dengan demikian kesempurnaan wanita pun terletak pada kaum pria. 13]
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2] ayat 187)
Wanitalah yang menutupi aurat atau aib laki-laki dan laki-laki juga yang menutupi aurat atau aib wanita.
SIAPAKAH YANG LEBIH ENGKAU CINTAI?
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu hari Rasulullah menemui Ali dan Fathimah, dimana keduanya (Ali dan Fathimah) sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah mereka serentak terdiam. Melihat hal ini Nabi saww pun bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam?”
Maka Fathimah cepat-cepat berkata, ”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia (Ali) telah berkata begini, ”Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu”, maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, ”Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu!”.
Mendengar hal ini Rasulullah saww tersenyum lantas berkata, ”Wahai putriku, engkaulah buah hatiku yang paling aku cintai, sedangkan Ali lebih mulia bagiku daripadamu.” 14]
Mungkin kita bisa menafsirkan hadits di atas dengan metoda Ibn ‘Arabi, dimana ketika Rasulullah saww melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah, beliau melihat manifestasi Jamaliyyah (Keindahan Spiritual) Tuhan yang begitu dominan, sementara pada Imam Ali as, beliau melihat manifestasi Jalaliyyah (Keagungan Spiritual) Tuhan yang lebih mendominasi.
Pada hakikatnya, pada kaum wanita, manifestasi (tajaliyyat) Keindahan Tuhan lebih menonjol, sementara kaum pria lebih banyak menyerap manifestasi Keagungan Tuhan.
Orang yang mengetahui kedudukkan kaum wanita dan misteri mereka tidak akan menjauhi mereka. Sebaliknya, salah satu kesempurnaan kaum ‘urafa adalah kecintaan kepada mereka, sebab ini merupakan warisan Nabi saww dan cinta Ilahiah. 15]
Ibn Al-‘Arabi sendiri berkeyakinan bahwa di dalam diri wanitalah Tuhan lebih sempurna memanifestasikan diri-Nya. 16] Ini bisa dipahami karena sifat Rahman dan Rahim Tuhan lebih menonjol ketimbang sifat-sifat-Nya yang keras, sebagaimana hadis Qudsi yang sangat masyhur : “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 17]
Ibn ‘Arabi qs berkata :
“Kerinduan para ahli makrifat terhadap kaum wanita
adalah kerinduan dari keseluruhan terhadap bagian dirinya,
seperti kesunyian tempat tinggal yang mendambakan
penghuni yang memberi mereka kehidupan.
Lagi pula, Tuhan mengisi tempat dalam diri kaum pria
dari mana wanita diambil dengan kecenderungan terhadapnya.
Kerinduannya terhadap wanita itu adalah kerinduan
dan kecenderungan dari yang besar terhadap yang kecil”
(Futuhat al-Makkiyyah 2 : 190.9)
Imam Ja’far al Shadiq as berkata, “Sebagian dari akhlaq para Nabi adalah mencintai kaum wanita (hubb al-Nisâ’)” (Al-Wasail 20 : 21)
Banyak hadits yang menyebutkan keutamaan mencintai kaum wanita sebagaimana hadits lainnya, bahwa Imam Ja’far al-Shadiq as berkata, ”Semakin banyak kecintaan seorang hamba terhadap kaum wanita semakin meningkat imannya dalam kebaikan.” 1]
Kecintaan kita kepada siapa pun, selain kepada Allah, bukanlah suatu dosa apalagi syirik, sepanjang bentuk cinta itu sejalan dan searah dengan cinta kita kepada Allah.
Ketika saya mengunjungi sebuah toko buku, saya melihat buku karya Ibn al-Qayyim yang bejudul Taman Jatuh Cinta dan Memendam Rindu. Di dalam salah satu halaman pada buku tersebut ada sebuah kisah yang mengharukan tapi juga mengejutkan.
Kira-kira begini ceritanya, Fudlail bin Iyadl, salah seorang tokoh sufi ternama, sedang menunggui putrinya yang sedang sakit parah. Sang sufi melihat sedemikian berat penderitaan putrinya itu menjadi sedih hingga menitikkan air matanya. Putrinya begitu melihat ayahnya menangis segera menegur ayahnya, ”Mengapa ayah menangis?”
Fudhail menjawab, ”Tentu saja karena aku mencintaimu”
Putrinya sekali lagi menegur ayahnya,”Bagaimana ayah bisa mencintai sesuatu selain Allah?”
Fudhail terhenyak dan sadar, ia merasa bersalah dan berdosa karena ia telah memberikan cintanya kepada seeorang disamping cintanya kepada Tuhan.
Banyak kisah-kisah sufi yang menarik yang senada dengan cerita di atas, tetapi apakah bisa dibenarkan pola berpikir seperti itu?
Tentu saja penyataan-pernyataan seperti itu menjadi naif dan terkesan tidak cerdas, karena kita memahami bahwa selama bentuk cinta kita itu masih dalam ruang fitrah manusia dan searah dengan kecintaan kita kepada Tuhan maka hal yang demikian justru menjadi bagian dari ibadah dan kebajikan. (Hal ini sudah saya paparkan pada artikel2 sebelum ini)
Laki-laki dan wanita adalah dua makhluk yang diciptakan dari Yang Satu, Allah SwT, sehingga pada keduanya ada keselarasan untuk mencintai Tuhan secara sama.
AL NISA’ BUKAN IMRA’AH
Jika kita perhatikan dua teks hadits Imam Ja’far al-Shadiq as tersebut di atas, beliau as tidak menggunakan kata imra’ah, bentuk jamak dari mar’ah yang artinya : perempuan, tetapi beliau menggunakan kata al-Nisa’, sebuah kata yang tidak memiliki bentuk tunggal, yang artinya wanita.
Syekh al-Jerahi al-Halveti mengatakan bahwa isyarat ini menunjukkan bentuk kata al-Nisa’ bukanlah wanita tanpa nama yang para Nabi dan Rasulullah saww cintai. 2]
Dengan kata lain mereka (para Nabi) mencintai wanita-wanita tertentu. Yaitu wanita-wanita yang memang layak mereka cintai dengan kapasitas spiritual yang mumpuni. Contoh yang paling populer adalah kecintaan Nabi saww kepada Khadijah al-Kubra as, isteri pertama beliau. Sampai akhir hayat beliau saww beliau tidak dapat melupakan kecintaannya kepada Khadijah as sampai-sampai ‘Aisyah merasa sangat cemburu. Contoh lainnya yang juga tidak bisa kita abaikan adalah cinta Rasul saww kepada Fathimah as yang sangat besar.
Sejarah dan riwayat-riwayat hadits tentang kecintaan beliau saww kepada puterinya yang mulia ini menjadi topik khusus dari banyak pembahasan di dalam kitab-kitab yang mu’tabar.
Rasulullah menyebutkan ada 4 wanita yang telah mencapai tingkatan spiritual yang sedemikian tinggi yang bahkan kaum lelaki pun akan sulit untuk mencapainya. Kempat wanita itu adalah : Khadijah binti Khuwailid as, isteri Nabi saww, Fathimah, puteri Nabi saww, Maryam binti ‘Imran as, dan Asiyah binti Muzahim as, sebagaimana sabda Rasulullah saww, ”Sebaik-baik wanita di Surga adalah Maryam binti ‘Imran, Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun” 3]
Di lain hadits yang diriwayatkan oleh Tsa’labi dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saww bersabda kepada puterinya Fathimah as, ”Cukuplah bagimu bahwa Allah menjadikanmu sebagai salah seorang penghulu wanita (di Surga) yaitu : Maryam binti ‘Imran, Asiyah isteri Fir’aun, Khadijah binti Khuwailid, dan Fathimah binti Muhammad.” 4]
Juga sabda beliau saww, ”Seutama-utama wanita di Surga ada empat orang : Khadijah binti Khuwailid, Fathimah binti Muhammad, Maryam binti ‘Imran, dan Asiyah binti Muzahim, isteri Fir’aun.” 5]
Rasulullah saww bersabda, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla memilih 4 wanita (utama) yaitu : Maryam, Asiyah, Khadijah dan Fathimah.” 6]
Jadi, para Nabi, termasuk Nabi saww, mencintai kaum wanita dengan pandangan spiritualitas bukan dengan pandangan fisik.
TIGA HAL YANG DICINTAI NABI SAW
Hal seperti ini pernah disabdakan oleh Nabi saww, ”Tiga hal dari dunia kalian ini menjadi kesukaanku (kecintaanku), kaum wanita, parfum dan kesejukkan mataku ketika shalat.” 7]
Segala sesuatu yang besar berasal dari hal-hal kecil. Habb adalah benih. Makna harfiah habb adalah benih yang berasal dari rerumputan. Ada banyak jenis tumbuh-tumbuhan, dan maknanya berkaitan dengan kandungan gizi yang dimilikinya.
Makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan saling bergantung. Makhluk yang paling mulia, manusia, bergantung pada makhluk-makhluk yang lebih rendah karena manusia berasal dari debu.
Namun demikian, manusia mencintai yang lebih tinggi karena kelembutannya. Ada sesuatu dalam diri manusia yang membuatnya mencintai makna-makna yang lebih subtil. Nabi Muhammad saw. menyukai shalat, wangi-wangian, dan wanita. Ia mencintai yang paling lembut, yakni shalat, wewangian dan wanita.
Begitu kebutuhan-kebutuhan fisik seseorang telah terpenuhi, ia akan mencari kepuasan yang lebih tinggi lagi dalam makna. Jika beruntung, maka ia akan meraih kepuasan fisik, yang kemudian membuat dirinya mempertanyakan makna. 8]
Muhyiddin Ibn ‘Arabi qs mengatakan, ”Wanita diciptakan untuk dicintai pria, karena Allah mencintai apa yang telah diciptakan-Nya. Cinta pria tersebut adalah untuk Tuhannya dimana dia berada dalam citra-Nya. Cinta ini pada gilirannya membuat dirinya mencintai isterinya, karena ia mencintai isterinya melalui cinta Allah atasnya, menurut pola citra Ilahi. Ketika seorang pria mencintai seorang wanita, pria itu berusaha menyatu dengan sang wanita, sehingga memungkinkan mereka bersatu dalam cinta dan pada lingkungan elemental tidak terdapat penyatuan yang lebih besar daripada penyatuan di dalam hubungan seksual. (di dalam sebuah pernikahan). 9]
Ketika pria mencintai wanita, dia mencari kesatuan, atau kesatuan akhir yang terjadi dalam cinta. Dan tidak ada kesatuan yang dalam konfigurasi elemental yang lebih besar daripada perkawinan.
WANITA DICIPTAKAN DARI NAFS WAHIDAH
Allah SwT berfirman, ”Wahai sekalian manusia! Bertaqwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari jiwa yang satu (nafs wahidah) dan daripadanya Allah menciptakan isterinya. (pasangannya)” (QS 4 : 1)
Imam al-Shadiq as berkata, ”Sesungguhnya Allah ‘Azza wa Jalla menciptakan akal (al-‘aql), yang merupakan ciptaan(Nya) yang paling awal” 10]
Dengan pemahaman ini, saya meyakini bahwa baik Adam as maupun Hawa as diciptakan dari nafs wahidah atau Nur Muhammad. Dari pemahaman ini pula kita mendapatkan hikmah bahwa asal kejadian Adam yang mewakili pria dan Hawa yang mewakili wanita adalah satu dan sama.
Dari prinsip kesamaan atau keserupaan inilah kaum pria dan kaum wanita memiliki saling ketertarikkan satu sama lain. Pria bersesuaian dengan wanita melalui keserupaan. Maka pria menjadi hilang dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita, sebab tidak ada bagian dari diri pria yang tidak ada dalam diri wanita.
Cinta dapat meresap ke seluruh bagian diri pria sedemikian rupa sehingga dia mencurahkan seluruh dirinya untuk wanita. Itulah sebabnya pria menjadi hilang dalam yang menyerupai dirinya dengan kehilangan yang sempurna, bertentangan dengan cintanya pada sesuatu yang tidak merupakan keserupaannya.
Cinta tidak dapat menyerap keseluruhan orang yang mencintai kecuali yang dicintainya adalah Tuhan atau salah satu yang serupa dengannya, seorang wanita atau seorang pria. Tidak ada cinta yang dapat menyerap seorang manusia secara menyeluruh, karena sebab esensi seorang manusia tidak bersesuaian dengan sesuatu pun kecuali seseorang yang menyerupai bentuknya sendiri. 11]
Rasulullah mencintai wanita-wanita melalui alasan dari penatapan sempurna tentang Realitas pada mereka (Jamaliyyah). Barangsiapa yang mencintai wanita-wanita dengan cara ini, maka ia mencintai dengan kecintaan yang bersifat Ilahiah.
Sebaliknya pria yang cintanya dibatasi pada gairah alamiah, menghilangkan semua pengetahuan yang sebenarnya tentang hasrat Ilahi itu. Bagi orang ini, wanita dipandangnya sebatas bentuk-bentuk fisiknya belaka tanpa ruh. Ini adalah kehampaan karena orang seperti ini mendekati isterinya atau wanita-wanita lainnya semata-mata untuk sekedar memenuhi kesenangannya akan wanita tersebut tanpa menyadari Sesuatu Yang kesenangan-Nya benar-benar ada. Dengan demikian, pria itu benar-benar tidak mengenal dirinya.
Mereka benar dalam pengandaian bahwa aku sedang jatuh cinta,
Hanya mereka tidak mengetahui dengan siapa aku jatuh cinta
Pria seperti ini benar-benar jatuh cinta pada kelezatannya bukan kepada Siapa Yang menyebabkan ia dapat menikmati kesenangan itu dengan wanita, dan merupakan Sang Penikmat. Jika ia jatuh cinta bukan pada kelezatannya tetapi pada Sumber Segala Kenikmatan niscaya ia akan menjadi sempurna. 12]
Nabi Saw adalah manusia yang paling sempurna dan sekaligus pria yang juga paling sempurna. Kecintaan Nabi Saw kepada kaum wanita menunjukkan bahwa kesempurnaan manusia terkait dengan kecintaan manusia lainnya, bukan semata-mata kecintaannya kepada Tuhan. Secara lebih khusus, itu menunjukkan bahwa kesempurnaan pria terletak pada kaum wanita da, dengan demikian kesempurnaan wanita pun terletak pada kaum pria. 13]
“mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka.” (QS Al-Baqarah [2] ayat 187)
Wanitalah yang menutupi aurat atau aib laki-laki dan laki-laki juga yang menutupi aurat atau aib wanita.
SIAPAKAH YANG LEBIH ENGKAU CINTAI?
Diriwayatkan oleh Ibn Abbas bahwa suatu hari Rasulullah menemui Ali dan Fathimah, dimana keduanya (Ali dan Fathimah) sedang tertawa. Namun ketika mereka berdua melihat kemunculan Rasulullah mereka serentak terdiam. Melihat hal ini Nabi saww pun bertanya, ”Apa yang kalian tertawakan sehingga ketika kalian melihatku tiba-tiba kalian diam?”
Maka Fathimah cepat-cepat berkata, ”Demi ayahku, engkau ya Rasulullah, dia (Ali) telah berkata begini, ”Aku lebih mencintai Rasulullah daripada kamu”, maka aku (Fathimah) pun berkata kepadanya, ”Tetapi aku lebih dicintai Rasulullah ketimbang kamu!”.
Mendengar hal ini Rasulullah saww tersenyum lantas berkata, ”Wahai putriku, engkaulah buah hatiku yang paling aku cintai, sedangkan Ali lebih mulia bagiku daripadamu.” 14]
Mungkin kita bisa menafsirkan hadits di atas dengan metoda Ibn ‘Arabi, dimana ketika Rasulullah saww melihat putri tercintanya Sayyidah Fathimah, beliau melihat manifestasi Jamaliyyah (Keindahan Spiritual) Tuhan yang begitu dominan, sementara pada Imam Ali as, beliau melihat manifestasi Jalaliyyah (Keagungan Spiritual) Tuhan yang lebih mendominasi.
Pada hakikatnya, pada kaum wanita, manifestasi (tajaliyyat) Keindahan Tuhan lebih menonjol, sementara kaum pria lebih banyak menyerap manifestasi Keagungan Tuhan.
Orang yang mengetahui kedudukkan kaum wanita dan misteri mereka tidak akan menjauhi mereka. Sebaliknya, salah satu kesempurnaan kaum ‘urafa adalah kecintaan kepada mereka, sebab ini merupakan warisan Nabi saww dan cinta Ilahiah. 15]
Ibn Al-‘Arabi sendiri berkeyakinan bahwa di dalam diri wanitalah Tuhan lebih sempurna memanifestasikan diri-Nya. 16] Ini bisa dipahami karena sifat Rahman dan Rahim Tuhan lebih menonjol ketimbang sifat-sifat-Nya yang keras, sebagaimana hadis Qudsi yang sangat masyhur : “Sesungguhnya Rahmat-Ku mendahului murka-Ku.” 17]
Ibn ‘Arabi qs berkata :
“Kerinduan para ahli makrifat terhadap kaum wanita
adalah kerinduan dari keseluruhan terhadap bagian dirinya,
seperti kesunyian tempat tinggal yang mendambakan
penghuni yang memberi mereka kehidupan.
Lagi pula, Tuhan mengisi tempat dalam diri kaum pria
dari mana wanita diambil dengan kecenderungan terhadapnya.
Kerinduannya terhadap wanita itu adalah kerinduan
dan kecenderungan dari yang besar terhadap yang kecil”
(Futuhat al-Makkiyyah 2 : 190.9)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
bagaimana menurut anda?