NILAI–NILAI YANG SUDAH HILANG
Mahasiswa adalah tingkatan yang paling berpengaruh dalam sejarah perjuangan bangsa indonesia. Kita bisa melihat peran mahasiswa pada tahun 1928 ketika mereka berhasil merumuskan konsep sumpah pemuda yang menjadi cikal bakal pemersatu di negeri ini. Terus kita juga dapat melihat begitu besar peran mahasiswa ketika peristiwa G/30/S dan peristiwa MALARI (malapetaka 11 April). Dan puncakanya adalah peristiwa 1965 yang berhasil menghasilkan TRITURA (Tri Tuntutan Rakyat) serta peristiwa reformasi 1998 yang berhasil menumbangkan rezim Soeharto.
Ketika peran dan keberhasilan gerakan mahasiswa kita ingin sinkronkan dengan kondisi mahasiswa PNUP sekarang ini, maka saya ingin katakan kondisinya sudah sangat memprihatinkan. Kita bisa lihat dari berbagai kejadian di PNUP yang melibatkan lembaga kemahasiswaan. Sikap mereka sudah tidak mencerminkan mahasiswa sebagaimana mahasiswa. Ketika ajang publikasi otot sudah menjadi ”trend” , ketimbang membuka sarana intelektual untuk menyelesaikan suatu masalah . Contoh lain kita bisa liat bagaimana budaya hedonis sudah merajalela di kampus ini. Mulai dari kebiasaan bergosip, kemudian budaya “maccalla–calla“ yang kembali menyeruak, budaya main kartu yang tujannya entah kemana, budaya meneriaki seseorang jika dianggap mengumbar sensualitas, hingga hilangnya kesetiakawanan sosial mahasiswa terhadap saudara–saudaranya yang masih hidup di jalanan dan emperan got. Sungguh sangat memprihatinkan.
Sungguh luculah kejadian ini. Nilai–nilai sebagai seorang mahasiswa sudah hilang. Dan lebih parahnya lagi mereka seakan bangga dengan hal ini. Kemudian muncul pertanyaan solusi apa yang bisa kita tawarkan terhadap fenomena ini. Jika kita merujuk pada akar permasalahannya maka yang pertama kali yang harus dirubah dari mereka yaitu konsep pola pikir. Ingat teman – teman bahwa seseorang akan melakukan sebuah tindakan berangkat dari pemahaman atau pola pikir mereka. Maka disini yang memiliki peranan penting adalah lembaga kemahasiswaan. Mengapa mereka memiliki peranan yang penting, karena di sanalah tempat mahasiswa memperoleh pengetahuan tentang hakekat mahasiswa itu sendiri. Tidak usah terlalu berharap dari bangku perkuliahan. Harus diketahui bahwa arena perkuliahan di PNUP lebih didominas pemahaman akan hal yang bersifat komersil. Di bangku kuliah mereka hanya diberikan pemahaman bagaimana menjadi orang pintar, kemudian terkenal, banyak uang, kemudian menikah, punya anak dan akhirnya mati. Dan mereka berharap agar tak muncul lagi semangat–semangat perjuangan sehingga kepentingan birokrasi menjadi gampang terealisasi.
Kemudian pola pikir mereka sudah terbangun secara sistematis dan rasional, maka harus di lakukan penyadaran realitas sosial. Ajaklah teman–teman kita ke panti asuhan atau daerah kumuh sehingga mereka benar–benar mengetahui keadaan yang sebenarnya.
Terakhir yang harus kita lakukan yaitu meminimalisir ego lembaga, membasis dengan lembaga lain sehingga revolusi yang sama–sama kita idamkan tercapai. Birokrat akan ciut nyalinya ketika melihat seluruh warga PNUP turun aksi di bawah satu almamater hitam untuk melakukan revolusi . Semoga hal ini bisa terealisasi kawan.
By: MAKHLUK TUHAN YANG PALING KRITIS
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
bagaimana menurut anda?